Minggu, 12 April 2009

PERSATUAN OLAHRAGA PACU ITIK (PORTI)


PORTI di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota di Ketuai oleh Dt. Parmato Alam, sering juga di sebut sebagai ketua Round Bond. Anggota PORTI tersebar di 11 (sebelah) kenagariaan. Saat ini pembinaan Round Bond berada di Dinas yang menangani fungsi pariwisata di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

Dinas Pariwisata Kota Payakumbuh memberikan dana pembinaan Rp. 2,5 juta per Gelanggang dan Dinas Pariwisata Kabupaten Limapuluh Kota memberikan dana pembinaan Rp. 1 juta per gelanggang setiap tahunnya.

Harga 1 (satu) ekor itik pacu yang masih nol Rp 100.000,- dan yang telah jadi > Rp. 1 juta. Dengan banyaknya peminat itik pacu maka masyarakat di 3 kenagarian yang budaya itik pacu sudah mengakar mulai melakukan pembibitan. Merekapun siap untuk melatih para peminat itik pacu dari mana saja untuk dapat melatih itik untuk di jadikan itik pacu.

SEJARAH PACU ITIK


Pacu itik lahir di kenagarian Aur Kuning, Sicincin di Kota Payakumbuh dan Padang Panjang di Kabupaten Limapuluh Kota. Sejarahnya masyarakat di 3 Kenagarian tadi merupakan masyarakat petani yang sawahnya berjenjang – jenjang Karen berada di perbukitan. Disamping bertani mereka juga memelihara itik yang di gembala di sawah. Ketika menghela itik dari atas ke bawah banyak dari itik – itik tersebut terbang laying kebawah, maka di cobalah melatih itik – itik tersebut untuk lomba anak nagari berupa pacu itik untuk menghilang kejemuan dalam bersawah.

Setiap tahun timbul inovasi dari masyarakat mencoba melatih itik itik mereka untuk terbang di daerah dataran dan berhasil. Sejak tahun 1927 maka berkembanglah tradisi pacu itik di 3 kenagarian tersebut, sampai saat ini terdapat 11 Gelanggang di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

Tidak semua itik bias di jadikan itik pacu, ada beberapa criteria itik yang bias dijadikan itik pacu yaitu ; Warna paruh dan kaki sama, Mata dengan alis jaraknya tipis, Leher pendek, Sayap elang tidak boleh berpilin tapi lurus mengarah ke atas, Gigi ganjil 7, 9 dst, Ujung jari ada sisik kecil, dan Badan panjang model jantung.

TRADISI PACU ITIK DI PAYAKUMBUH


Di Payakumbuh bukan hanya kuda yang berpacu, namun itik juga ikut berpacu. Lomba pacu itik ini dilaksanakan di 11 (sebelas) Gelanggang, 6 (enam) gelanggang di Payakumbuh, yaitu di; Aur Kuning, Sicincin, Ampangan, Tigo Baleh, Bodi dan Padang Alai, 5 (lima) Gelanggang di Kabupaten Limapuluh Kota.

Lomba pacu itik ini secara priodik di 11 Gelanggang tersebut dilakukan pada bulan April s/d Agustus, secara bergilir dilakukan di 11 Gelanggang tiap hari Sabtu dan Minggu. Namun untuk menggairahkan Pariwisata di Sumatera Barat sering seperti di Harau di Kabupaten Limapuluh Kota, Ngalau di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Solok sering mengundang anggota kelompok pacu itik untuk tampil pada even – even mereka.

Kelompok pacu itik ini tergabung dalam Persatuan Olahraga Pacu Itik (PORTI), hampir setiap sore bila tidak ada even pacu itik para anggota PORTI melatih itik – itik pacu di tiap – tiap Gelanggang.

KUNJUNGAN KERJA KEPALA DINAS PETERNAKAN PROPINSI SUMATERA BARAT KE KABUPATEN PASAMAN

Kunjungan Kerja Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan Peternakan Sumatera Barat tanggal 13 s/d 15 Februari 2009. Dalam kunjungan ini dilakukan tinjauan lapangan dan tatap muka dengan masyarakat dan petugas yang ada di Kabupaten Pasaman.

Dalam rapat staf dengan jajaran peternakan Kabupaten Pasaman Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat Ir. Edwardi, MM, menyatakan bahwa kunci pembangunan peternakan adalah sumberdaya manusia baik petugas maupun masyarakat. Ada 6 (enam) point penting yang disampaikan oleh beliau saat rapat staf tersebut ; 1) Perlunya profesional penyuluh dan petugas teknis lapangan, untuk itu maka perlu peningkatan pengetahuaan dan wawasan peyuluh dan petugas melalui diklat, magang dan sekolah lapangan. 2) Pembinaan kawasan berdasarkan komoditi, 3) Perencanaan haruslah kontiniu dan berkesinambungan mulai dari hulu sampai ke hilir, 4) Perlunya pengawasan terhadap program dan kegiatan melalui monev dan supervisi secara kontiniu, 5) Sinergitas program dan kegiatan antara propinsi dengan kabupaten serta sinergitas dengan SKPD lain dan lembaga pendukung peternakan.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Pasaman Ir. Syarialis, MM. Menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Pasaman mulai dari Bupati, Dinas dan Stake Holder lain serta masyarakat sanaat komit dengan peternakan, untuk itu telah ditetapkan Kawasan – kawasan peternakan melalui SK Bupati Pasaman, yang terdiri dari Kawasan Sapi Potong, Kawasan Kambing dan Kawasan Perunggasan, disampaikan juga bahwa terdapat 12.000 Ha potensi pengembangan sapi potong di Kabupaten Pasaman. Untuk itu maka Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Pasaman telah membentuk UPTD Keswan dan UPTD Inseminasi Buatan (IB) dalam mendukung percepatan pembangunan Peternakan Kabupaten Pasaman.

Dalam kunjunan lapangan Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat mengunjungi Kelompok Tani Aek Gala – Gala Mandiri di Kec. Padang Gelugur yang memiliki anggota 250 orang dan 56 orang bergerak di bidang peternakan. Tahun 2008 melalui dana APBD Kabupaten Pasaman telah di bantu 500 ekor ternak itik untuk 56 orang (KK) masing – masing mendapat 16 ekor, dimana produksi telur 9 – 10 butir / hari. Melihat perkembangan yang sangat menjanjikan melalui dana TP Ditjen Peternakan Tahun 2009 dialokasikan kegiatan Integrasi Tanaman dengan Ternak Unggas untuk kelompok Aek Gala – Gala Mandiri sebesar Rp. 100.000.000. direncanakan 80% untuk peningkatan populasi ternak itik dan 20% untuk bantuan kandang, obat-obatan dan pakan. Dari hasil diskusi dengan Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat, Ketua Kelompok Aek Gala – Gala menyampaikan visinya unuk mewujudkan Kelompok Aek Gala – Gala Mandiri menjadi sentral telur itik 5 (lima) tahun kedepan. Target tiap hari akan keluar telur dari kelompok tersebut sebanyak 1 Truk Fuso. Untuk itu maka di targetkan tiap anggota kelompok berusaha dengan berwawasan agribisnis dengan target memiliki skala usaha 200 – 500 ekor. Pola usaha di kelompok ada 2 (dua) yaitu Pembibitan dan budidaya. Untuk itu tahun depan direncanakan akan di bantu mesin tetas melalui dana TP Ditjen Peternakan melalui kegiatan UPJA Ungggas.

Kepala Dinas Peternakan juga mengunjungi RPH dan Pasar Ternak. Pasar ternak merupakan pembangunan baru yang sudah ada cikal bakalnya. Saat ini di transaksi di Pasar Ternak 50 – 100 ekor dengan pendatang dari suluruh Sumatera Barat dan dari Mandailing Natal