Sabtu, 30 Mei 2009

അര് പെങ്ങേമ്ബങ്ങാന്‍ സ്പി പോടോന്ഗ് ഡി സുമറെര BARAT

BAB. I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat disamping merupakan komoditas ekonomi yang bernilai startegis. Untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat Khususnya berasal dari : daging unggas (ayam buras, ayam ras, itik), daging sapi (sapi perah, sapi potong), daging kerbau, daging kambing dan domba. Dari semua jenis daging tersebut konsumsi daging sapi secara nasional hanya 0,31 kg/kapita/tahun, konsumsi ini belum dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri. Untuk Sumatera Barat konsumsi daging sapi adalah 8,862 ton pada tahun 2006 dengan prosentase distribusi konsumsi 31,70 %. Pemenuhan kebutuhan daging sapi di Sumatera Barat masih dapat disediakan dari pasokan lokal, namun memberi dampak terhadap penurunan populasi. Untuk itu usaha peningkatan populasi ternak sapi merupakan tugas penting yang harus dilaksanakan lima tahun kedepan.
Ternak sapi memiliki kegunaan multi fungsi : sebagai sumber pangan dalam memenuhi gizi masyarakat, sebagai sumber tenaga kerja dalam mengolah lahan pertanian dan sarana transportasi, sebagai tabungan (tabungan haji, tabungan sekolah anak, tabungan untuk perkawinan dll), sebagai sumber pupuk organik, sebagai sumber energi (Biogas), sebagai sumber bahan baku untuk industri kerajinan dan olahan, dan lain-lain.
Produksi daging sapi di Sumatera Barat berdasarkan data tahun 2006 adalah 15.561.671 ton dan diperkirakan sampai tahun 2010 produksi daging dapat mencapai 16.375,342 ton. Dengan kondisi Sumberdaya alam dan ketersediaan tenaga kerja produksi daging sapi masih dapat ditingkatkan lagi dengan memacu laju pertumbuhan populasi ternak sapi yang ada di Sumatera Barat. Potensi Maksimal populasi ternak ruminansia berdasarkan sumber daya lahan di Sumatera Barat adalah 1,910,475.99 ST dan berdasarkan ketersediaan tenaga kerja adalah 890,976.00 ST, sementara populasi ril ternak ruminansia adalah 472,278,53 ST. Artinya masih dapat ditingkatkan populasi ternak sapi ekstrem sampai 100% dari populasi yang ada sekarang.
Usaha Peternakan Sapi Potong di Sumatera Barat khusus untuk menghasilkan sapi bakalan hampir sebahagian besar dilakukan oleh peternakan rakyat yang tingkat skala usahanya masih kecil dan sedang berkisar 2 s/d 5 ekor/KK. Dengan terdapatnya BIB Tuah Sakato yang mensuply kebutuhan semen beku dan ketersediaan sumber daya alam dan tenaga kerja (rumah tangga pemelihara ternak) peluang peningkatan populasi dan produksi terbantang luas. Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam usaha peternakan sapi potong adalah ; (a) harus menyedia modal yang cukup besar, (2) kridit bunga Bank yang tinggi, (3) infrastruktur dan kelembagaan, (4) pencurian ternak, mata rantai pemasaran yang tidak menguntungkan peternak. Oleh sebab itu perlu dicarikan upaya terobosan yang mampu mendorong usaha pengembangan ternak sapi potong yang berdaya saing dalam merespon permintaan kebutuhan local, nasional dan luar negeri.
Dengan kondisi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia Sumatera Barat, usaha peternakan sapi mempunyai peran yang amat penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Untuk itu hendaknya investasi dalam usaha agribisnis sapi potong harus bertumpu pada ketersediaan bahan baku lokal yang masih berlimpah, sekaligus diarahkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja dan pengentasan kemiskinan.
Untuk mencapai hal tersebut diatas maka percepatan pembangunan usaha peternakan sapi potong harus dikembangkan pada daerah – daerah yang memiliki basis usaha komoditi unggulannya adalah sapi potong. Dengan telah ditetapkan 8 (delapan) Kabupaten Kota di Sumatera Barat yang memiliki komoditi unggulan ternak sapi potong, maka arah dan prioritas pembangunan peternakan di tujukan kepada 8 daerah tersebut tampa mengenyampingkan daerah lain sebagai daerah interland pensuport pengembangan ternak sapi potong. Disamping itu peran sub sektor lain dilingkup pertanian punya peran yang sangat strategis begitu juga peran sektor di luar pertanian. Sehubungan dengan hal tersebut perlunya sinergitas program dan kegiatan lintas sektoral agar gerak pembangunan dapat dipacu untuk mewujutkan peningkatan perekonomian masyarakat dan selanjutnya peningkatan kesejahteraan rakyat sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional. Daerah yang memiliki komoditi unggulan sapi potong adalah sebagai berikut ;
1. Kabupaten Agam,
2. Kabupaten Solok,
3. Kabupaten Solok Selatan,
4. Kabupaten Pesisir Selatan,
5. Kabupaten Sawahlunto Sijunjung,
6. Kabupaten Dharmasraya,
7. Kabupaten Padang Pariaman
8. Kota Payakumbuh.


2. Maksud, Tujuan dan Sasaran
2.1. Maksud
Maksud dari penulisan buku ini menggambarkan prospek dan arah pengembangan usaha peternakan sapi potong di Sumatera Barat terutama pada daerah yang memiliki komoditi unggulan ternak sapi potong, terkait dengan penyusunan kebijakan, langkah-langkah strategis, program dan kegiatan serta kebutuhan investasi yang diperlukan.

2.2. Tujuan
Tujuan dari pengembangan usaha peternakan sapi potong pada daerah yang memiliki komoditi unggulan sapi potong adalah ;
1. Untuk mengoptimalkan pengembangan usaha ternak sapi potong pada daerah yang memiliki komoditi unggulannya sapi potong,
2. Mengidentifikasi dan meninventarisir potensi daerah dalam pengembang usaha ternak sapi potong pada daerah yang memiliki komoditi unggulan daerahnya sapi potong,
3. Menyusun rencana strategis pengembangan usaha ternak sapi potong pada daerah yang memiliki komoditi unggulan daerahnya sapi potong,

2.3. Sasaran
Terwujudnya pengembangan produk unggulan daerah dalam hal ini sapi potong yang berbasis klaster di kawasan dalam kerangka manajemen rantai pasokan secara optimal dan berkelanjutan, agar terjadi peningkatan produksi, produktifitas, daya saing dan kemandirian ekonomi daerah pada daerah yang memiliki komoditi unggulan.

3. Pengertian
1. Produk Unggulan Daerah adalah barang atau jasa yang dimiliki dan atau dikuasai oleh daerah yang memiliki nilai ekonomis dan daya saing tinggi serta meyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, yang diproduksi berdasarkan pertimbangan kelayakan teknis (bahan baku dan pasar) talenta masyarakat dan kelembagaan (penguasaan teknologi, kemampuan sumberdaya manusia, dukungan infrastruktur, dan kondisi sosial budaya setempat), yang berkembang dilokasi tertentu.
2. Sumberdaya habis pakai (unrenewable resources) adalah jenis sumberdaya alam/fisik yang tidak dapat diperbaharui atau akan habis pada masa tertentu.
3. Klaster adalah kelompok perusahaan-perusahaan, pemasok dan industri terkait yang saling berhubungan serta institusi-institusi yang berspesialisasi di bidang tertentu yang berada pada lokasi-lokasi tertentu (kosentrasi geografis). Klaster menyangkut hubungan antar satu jenis kegiatan ekonomi, mulai dari kegiatan produksi primer, pengumpul, pengolah setengah jadi, pedagang dan eksportir dan pelayana penunjang seperti lembaga keuangan, pelayanan usaha, pendidikan, penelitian dan lainya.
4. Sektor Basis adalah sektor dalam perekonomian suatu wilayan yang memiliki nilai Loqation Quatin (LQ) lebih besar dari pada 1 (satu) serta memiliki keterkaitan kebelakang (backward linkages) dan keterkaitan kedepan (forward linkages) yang kuat dengan sektor-sektor lain.
5. Dampak Penggandaan (multiplier effect) adalah kemampuan sebuah sektor perekonomian dalam mempengaruhi perubahan sektor-sektor perekonomian lainnya.
6. Keunggulan Konperatif (Comperative Adventage) adalah keunggulan yang dimiliki oleh sebuah produk yang secara spesifik (daya tarik) tidak dimiliki oleh wilayah lainnya.
7. Keunggulan kompetitif (Competitive Adventage) adalah keunggulan yang dimiliki oleh sebuah produk dengan daya saing tinggi.
8. Efek menetes Kebawah (Trickle Down Effect) adalah dampak ikutan yang akan diperoleh sektor lainnya sebagai akibat pertumbuhan sektor utama.






















BAB. II
KONDISI OBJEKTIF


Pembangunan peternakan di Sumatera Barat merupakan suatu usaha untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak sehingga mampu menyediakan protein hewani asal ternak seperti : daging, telur dan susu untuk dikonsumsi dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah sendiri maupun propinsi tetangga dan ekspor.
Kondisi objektif pengembangan usaha peternakan terutama ternak sapi potong di Sumatera Barat dapat digambarkan sebagai berikut

1. Geografi Sumatera Barat
Sumatera Barat terletak pada pantai barat Sumatera yaitu pada 00 s/d 540 Lintang Utara, 30 s/d 300 Lintang Selatan serta 980 s/d 360 dan 1010 – 530 Bujur Timur dengan luas wilayah 42,2 ribu Km lebih atau sekitar 2,17 % dari Luas wilayah RI. Dari luas tersebut, 6,011 Km diantaranya merupakan wilayah kepulauan yang sebagian besar daerah kepulauan mentawai, 53,31 % merupakan kawasan budidaya dan 16,52 % sudah diusahakan secara intensif.
Daerah Sumatera Barat dilintasi oleh Bukit Barisan yang membujur dari Utara ke Selatan, sehingga topografi bervariasi mulai dari datar, landai sampai curam serta pegunungan, dengan ketinggian sekitar 1 m s/d 2.912 m dpl. Secara agrolimat Sumatera Barat beriklim sedang dengan temperatur berkisar 170 C s/d 270 C dan tingkat curah hujan yang cukup tinggi. Kondisi ini memungkinkan potensi pengembangan hijauan makanan ternak dapat ditingkatkan sehingga berdampak terhadap pengembangan potensi peternakan terutama ternak ruminansia.

2. Penggunaan Lahan dan Jumlah Penduduk
Pengunaan lahan di Sumatera Barat berdasarkan data tahun 2006 adalah :
1. Pemukiman : 2,62 %
2. Pertanian : 28,55 %
3. Padang Rumput : 0,33 %
4. Lahan Kritis : 1,26 %
5. Hutan : 60,59 %
6. Semak : 3,56 %
7. Danau : 2,84 %
8. Lain – lain : 0,53 %

Potensi Maksimal populasi ternak ruminansia berdasarkan sumber daya lahan di Sumatera Barat dari data penggunaan lahan diatas adalah 1,910,475.99 ST sementara populasi ril ternak ruminansia adalah 472,278,53 ST. Artinya masih dapat ditingkatkan populasi ternak sapi ekstrem sampai 100% dari populasi yang ada sekarang.
Jumlah penduduk di Sumatera Barat tahun 2007 adalah 4.697.764 jiwa dimana pendistribusian berdasarkan mata pencaharian adalah 48% untuk sektor pertanian, 21% untuk sektor perdagangan dan 14% untuk sektor jasa dari total angkatan kerja 2.510.413 jiwa.
Jumlah Rumahtangga Pemelihara Ternak yang bergerak dalam usaha peternakan sapi potong di Sumatera Barat tahun 2006 adalah 177.403 kk.

3. Perkembangan Populasi, Produksi, Pemotongan dan Konsumsi Ternak Sapi Potong
Memperhatikan perkembangan populasi, produksi, pemotongan, dan konsumsi ternak sapi potong di Sumatera Barat tahun 2006 s/d 2007 di Sumatera Barat terdapat peningkatan, karena semua peternak sudah melaksanakan pemeliharaan ternak dengan baik, sesuai dengan teknologi dalam pengembangan usaha peternakan dan meningkatnya kesadaran akan kebutuhan gizi yang bersumberdari protein hewani, disamping mencerminkan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi disektor pertanian.
Perkembangan populasi, produksi, pemotongan, dan konsumsi ternak sapi potong di Sumatera Barat tahun 2006 s/d tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Perkembangan Populasi, Produksi, Pemotongan, dan Konsumsi Ternak Sapi Potong di Sumatera Barat tahun 2006 s/d 2010
No Uraian Tahun
2006 2007* 2008** 2009** 2010**
1. Populasi (ekor) 440.641 463.027 489.668 519.891 540.782
2. Produksi Daging (ton) 15.561,7 16.346,4 17.293 18.360 19.169
3. Pemotongan (ekor) 88.262 92.744 98.080 104.134 108.719
4. Konsumsi (ton) 8.862 9.309 9.848 10.456 10.916
* Angka Sementara
* * Angka Prediksi.





Tabel 2 Populasi Ternak Sapi Potong di Kabupaten dan Kota Yang Komoditi Unggulannya Ternak Sapi Potong Tahun 2006
No Kab/Kota Populasi (ekor) Produksi (ton) Pemotongan (ekor)
1 Kab. Pesisir Selatan 82.396 2.942,3 16.688
2 Kab. Solok 42.315 1.498,4 8.494
3 Kab. Sawahlunto Sijunjung 36.492 1.347,6 7.643
4 Kab. Padang Pariaman 57.024 2.076,7 11.779
5 Kab. Agam 28.763 1.032,5 5.856
6 Kab. Solok Selatan 6.144 208,1 1.180
7 Kab. Dhamasraya 13.729 506,9 2.875
8 Kota Payakumbuh 7.467 266,2 1.510

Bila dilihat dari ketersediaan lahan sebagai tempat usaha peternakan dan penyediaan pakan ternak maka pada dasarnya Sumatera Barat memiliki peluang yang sangat besar dalam pengembangan usaha peternakan baik ternak besar, ternak kecil maupun ternak unggas. Daya tampung lahan untuk usaha ternak besar sekitar 3.250.000 ekor sementara populasi ternak besar di Sumatera Barat baru berjumlah 656.903 ekor, artinya Sumatera Barat sangat berpotensi untuk pengembangan usaha ternak besar.
Kebutuhan akan produksi usaha peternakan (daging, telur, dan susu) tiap tahun terjadi peningkatan, hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan sosial budaya, tingkat pendidikan, era globalisasi dan peningkatan teknologi informasi yang mempengaruhi pola hidup dan pola konsumsi masyarakat, sehingga semangkin meningkat kesadaran akan kebutuhan gizi yang bersumber dari protein. Berdasarkan Standar Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi kebutuhan protein dari produk peternakan sebanyak 6 gram/kapita/hari atau setara dengan daging 10,3 kg/kapita/tahun, telur 6,5 kg/kapita/tahun, dan susu 7,2 kg/kapita/tahun. Tabel 3 menggambarkan jumlah konsumsi produk peternakan.
Tabel 3. Konsumsi /Kap /Tahun (Kg)
No Komoditi Tahun
2002 2003 2004 2005 2007
1 Daging 5,325 6,424 6,964 6,272 6,272
2 Telur 5,866 6,454 6,145 5,756 5,756
3 Susu 0,495 0,595 0,626 0,431 0,431

Dari tabel diatas terlihat bahwa pencapaian kebutuhan gizi dari protein hewani terutama dari daging masih belum tercapai hal ini disebabkan dari daya beli masayarakat masih rendah, sementara pencapaian konsumsi daging sapi di Sumatera Barat telah mampu dipenuhi dari produksi dalam daerah.
Tabel 4. Kebutuhan dan Persediaan Daging Sapi di Sumatera Barat
NO JENIS KEBUTUHAN PER TAHUN PERSEDIAAN PER TAHUN KEKURANGAN/ KELEBIHAN CATATAN
Ton/Tahun Ton/Tahun Ton/Tahun
1 SAPI 9,308.7 13,077.0 3,768.3 surplus

4. Ketersediaan Pakan Ternak
Tidak bisa dipungkiri ketersediaan pakan sangat mempengaruhi perkembangan usaha peternakan, apakah itu ternak besar, ternak kecil maupun ternak unggas. Untuk ternak besar seperti sapi potong penyediaan pakan hijauan dalam jumlah dan mutu yang baik dan cukup merupakan satu faktor dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan. Hijauan makanan ternak di Sumatera barat cukup tersedia, baik berupa rumput alam maupun dari rumput unggul dan sisa pertanian seperti daun jagung, jerami dll serta limbah industri.
Pola pengembangan hijauan makanan ternak dengan mengerakan masyarakat untuk menanam rumput unggul pada lahan kosong/tidur dan marginal lainya, yang terkenal dengan istilah Gemarampak memberi konstribusi dalam peningkatan jumlah pakan hijauan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pada kawasan peternakan ruminansia (sapi potong) di Sumatera Barat, masyarakat sudah membudaya untuk menanam rumput unggul sehingga dimana ada lahan kosong, dimana ada ternak disitu berkembang hijauan makanan ternak.
Bila peningkatan usaha pertanian tanaman pangan seperti padi dan jagung dan perkebukan seperyi sawit, kakao dll di Sumatera Barat dapat ditingkatkan akan memberi dampak ketersediaan kebutuhan pakan baik pengganti pakan hijauan, maupun pakan kosentrat. Ketersediaan pakan tersebut bila ditangani dengan baik melalui rekayasa teknologi akan mampu meningkatkan produktifitas ternak sapi potong.

5. Sumber Daya Manusia
Potensi Sumber Daya Manusia dalam mendukung pengembangan usaha peternakan di Sumatera Barat khususnya ternak sapi potong sangat prospektif sekali hal ini dapat terlihat dari jumlah rumah tangga pemelihara ternak sapi potong mencapai 177.403 kk. Sebagian besar peternak tersebut sudah berpengalaman dan terampil dalam usaha peternakan sapi potong. Untuk lebih jelas secara rinci pada tabel 5 ditampilkan jumlah rumahtangga peternak pemelihara ternak sapi potong pada 8 (delapan) Kabupaten dan Kota yang komoditi unggulannya ternak sapi potong.
Tabel 5. Rumah Tangga Pemelihara Ternak Sapi Potong di 8 (delapan) Kabupaten dan Kota Yang Memiliki Komoditi Unggulan Sapi Potong
No Kab/Kota 2005 2006
1 Kab. Pesisir Selatan 28.360 28.696
2 Kab. Solok 19.222 21.285
3 Kab. Sawahlunto Sijunjung 11.685 12.772
4 Kab. Padang Pariaman 21.917 22.835
5 Kab. Agam 11.488 11.719
6 Kab. Solok Selatan 3.153 3.314
7 Kab. Dhamasraya 5.286 5.354
8 Kota Payakumbuh 2.338 2.485

Disamping itu didukung dengan ketersediaan aparat pelayanan teknis peternakan yang berpengalaman dan terampil serta senantiasa siap melayani peternak dilapangan.
Pada tahun 2006 jumlah tenaga teknis peternakan yang telah dilatih dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Tenaga Teknis Peternakan di Sumatera Barat Tahun 2006
No. Tenaga Teknis Peternakan Jumlah (orang)
1
2
3
4
5
6
7
8 Inseminator
Pemeriksa Kebuntingan (PKB)
ATR
Recorder
Handling Semen
ET
Juru Keswan
Paramedis 206
100
58
49
12
12
25
25

6. Sarana dan Prasarana Peternakan
Dalam mendukung usaha peternakan potensi lain yang dimiliki oleh Sumatera Barat adalah ketersediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dalam rangka mendukung usaha peternakan yang sudah ada maupun dalam menyongsong pertumbuhan dan perkembangan usaha peternakan dengan semangkin bergeraknya pembangunan peternakan di Sumatera Barat.
Pengembangan infra struktur merupakan bagian dari pelayanan publik yang terdiri dari Pos IB 112 unit, Pos Keswan 43 unit, RPH 7 unit, TPH 32 unit Pasar Ternak 29 unit dan BIB Tuah Sakato 1 unit.

7. Kawasan Peternakan
Sesuai dengan kebijakan pembangunan peternakan dalam peningkatan produksi dan produktifitas setiap komoditi peternakan, penanganan kesehatan hewan dan pengamanan produk pangan asal ternak melalui kegiatan – kegiatan yang terfokus dalam suatu kawasan yang sesuai dengan spesifik daerah / wilayah. Kawasan peternakan adalah kawasan yang secara khusus diperuntukkan untuk kegiatan peternakan atau terpadu sebagai usaha tani (berintegrasi dengan tanaman pangan, holticultura, perkebunan atau perikanan) dan terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung dan suaka alam). Melanjutkan konsep kawasan yang telah ada yaitu kawasan sentra produksi peternakan (kawasan agribisnis peternakan) dan kawasan agropolitan, disempurnakan menjadi 3 (tiga) bentuk kawasan peternakan yaitu kawasan prioritas (komoditi unggulan peternakan) dan kawasan integrasi (basis komoditi tanaman pangan, holticultura, perkebunan dan perikanan) serta kawasan industri (perunggasan).
a. Kawasan Prioritas terdiri dari :
- Kawasan Peternakan Sapi Pembibitan/Kereman .
- Kawasan Peternakan Kerbau
- Kawasan Peternakan Kambing dan Domba (Kado)
- Kawasan Peternakan Ayam Buras
b. Kawasan Integrasi terdiri dari :
- Kawasan Integrasi dengan Tanaman Pangan
- Kawasan Integrasi dengan Holticultura
- Kawasan Integrasi dengan Perkebunan
- Kawasan Integrasi dengan Perikanan
c. Kawasan Industri terdiri dari :
- Kawasan Industri Perunggasan
1. Dalam kawasan akan terjadi peningkatan populasi ternak melalui program / kegiatan yang terpadu dan terintegrasi.

7.1 Kawasan Peternakan Sapi Potong
Sesuai dengan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan Peternakan Sumatera Barat Tahun 2008 tanggal 1 s/d 3 Februari 2008, bertempat di Hotel Parai Kabupaten Agam maka telah ditetapkan kawasan-kawasan peternakan di Sumatera Barat. Salah satu kawasan yang telah ditetapkan adalah kawasan peternakan sapi potong yang berada di 16 (enam belas) Kab/Kota se Sumatera Barat. Sebagai hasil penetapan komoditi unggulan sapi potong maka kawasan yang berada pada 8 (delapan) Kab/Kota merupakan kawasan prioritas pengembangan komoditi unggulan sapi potong di Sumatera Barat yaitu :
1. Kabupaten Agam,
• Baso
• IV Angkek
• Candung
• Tilatang Kamang
• Kamang Magek
• Sei Puar
• Matur
• Banuhampu
2. Kabupaten Solok,
• X Koto Singkarak
• Kubung
• Lembang Jaya
• Bukit Sundi
• Gunung Talang
• Hiliran Gumanti
• Lembah Gumanti
3. Kabupaten Solok Selatan,
• Sangir
• Sangir Jujuan
• Sangir Batang hari
• Sei Pagu
• Koto Parik Gadang Diateh
• Alam Pauh Duo
4. Kabupaten Pesisir Selatan,
• Koto XI Tarusan
• Bayang
• IV Jurai
• Ranah Pesisir
• Sutera
• Lengayang
5. Kabupaten Sawahlunto Sijunjung,
• Lubuk Tarok
• Sijunjung
• IV Nagari
• Kec. Koto VII
• Sumpur Kudus
• Kamang Baru
6. Kabupaten Dharmasraya
• Koto Baru
• Sitiung
• Pulau Punjung/Timpeh
7. Kabupaten Padang Pariaman
• Sei Geringging
• IV Koto Aur Melintang
• Aur Melintang
• Lubuk Alung
• Batang Anai
• Patamuan
• Padang Sago
• Enam Lingkung
• VII Koto Sei Sarik

8. Kota Payakumbuh.
• Payakumbuh Barat
• Payakumbuh Utara










7.2 Populasi di Kawasan Peternakan Sapi Potong

Tabel 7. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Agam
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Baso 397 1,822 2,219
2 IV Angkat 324 2,614 2,938
3 Candung 351 484 835
4 Tilatang Kamang 1,331 1,889 3,220
5 Kamang Magek 285 476 761
6 Banuhampu 405 0 405
7 Sungai Puar 719 1 720
8 Matur 472 341 813
Jumlah 4,284 7,627 11,911


Tabel 8. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Solok
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 X Koto Singkarak 1,506 2,930 4,436
2 Kubung 2,424 2,877 5,301
3 Gunung Talang 3,657 1,453 5,110
4 Bukit Sundi 714 3,915 4,629
5 Lembang Jaya 1,854 3,240 5,094
6 Lembah Gumanti 4,249 471 4,720
7 Hiliran Gumanti 835 669 1,504
Jumlah 15,239 15,555 30,794

Tabel 9. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Solok Selatan
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Koto Parik Gadang Diateh 489 630 1,119
2 Sungai pagu 950 412 1,362
3 Sangir 623 201 824
4 Sangir Jujuan 780 1,575 2,355
5 Sangir Batang Hari 101 383 484
Jumlah 2,943 3,201 6,144

Tabel 10. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Pesisir Selatan
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Koto XI Tarusan 2,609 4,618 7,227
2 Bayang 4,521 6,780 11,301
3 IV Jurai 1,371 3,495 4,866
4 Batang Kapas 1,210 3,150 4,360
5 Sutera 2,401 10,159 12,560
6 Lengayang 3,616 8,060 11,676
7 Ranah Pesisir 3,530 12,019 15,549
Jumlah 19,258 48,281 67,539

Tabel 11. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 IV Nagari 1,428 3,332 4,760
2 Sumpur Kudus 1,203 2,547 3,750
3 Koto VII 1,300 4,198 5,498
4 Sijunjung 2,305 4,092 6,397
5 Lubuk Tarok 1,446 2,476 3,922
6 Kamang Baru 1,996 2,934 4,930
Jumlah 9,678 19,579 29,257

Tabel 12. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Dhramasraya
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Pulau Punjung 375 1,270 1,645
2 Sitiung 662 3,717 4,379
3 Koto Baru 2,212 3,919 6,131
Jumlah 3,249 8,906 12,155






Tabel 13. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kabupaten Padang Pariaman
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Batang Anai 2,011 2,533 4,544
2 Lubuk Alung 3,082 3,466 6,548
3 Enam Lingkung 1,821 1,875 3,696
4 VII Koto Sungai Sarik 2,284 2,456 4,740
5 Patamuan 549 621 1,170
6 Padang Sago 590 879 1,469
7 Sungai Geringging 1,649 2,229 3,878
8 IV Koto Aur Malintang 1,033 2,406 3,439
Jumlah 13,019 16,465 29,484


Tabel 14. Populasi Sapi Potong di Kawasan Kota Payakumbuh
No Kecamatan Sapi Potong
Jantan Betina Jumlah
1 2 6 7 8
1 Payakumbuh Utara 596 2,002 2,598
2 Payakumbuh Barat 1,098 2,096 3,194
Jumlah 1,694 4,098 5,792


8. Profil Usaha Peternakan Sapi Potong
8.1. Profil Usaha Penggemukan Sapi Potong
Diasumsikan dalam perhitungan usaha penggemukan sapi potong dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dalam satu tahun, dengan menggunakan 5 ekor sapi tiap siklus.








Tabel 15. Profil Usaha Penggemukan Sapi Potong
No Uraian Volume Harga Satuan Jumlah
Rp Rp
I Produksi
1 Sapi 15 ekor 7,500,000 112,500,000
2 Kompos 6,750 kg 500 3,375,000
Jumlah 115,875,000


II Pengeluaran
1 Bakalan 15 ekor 4,500,000 67,500,000
2 Hijauan 40,500 kg 100 4,050,000
3 Kosentrat 4,050 kg 1,000 4,050,000
4 Obat hewan/Vitamin 1 Paket 100,000 100,000
5 Kompos 6,750 kg 200 1,350,000
6 Tenaga Kerja 90 Hari 20,000 1,800,000
Jumlah 78,850,000

III Keuntungan 37,025,000
B/C 1.47

8.2. Profil Usaha Pembibitan Sapi Potong
Diasumsikan dalam perhitungan usaha pembibitan sapi potong dilakukan selama 3 (tiga) tahun, dengan menggunakan 5 ekor sapi tiap siklus.







Tabel 16. Profil Usaha Pembibitan Potong
No Uraian Volume Harga Satuan Jumlah
Rp Rp
I Produksi
1 Harga Sapi Induk 5 ekor 10,000,000 50,000,000
2 Sapi Bakalan 10 ekor 4,500,000 45,000,000
3 Kompos 136,875 kg 500 68,437,500
Jumlah 163,437,500

II Pengeluaran
1 Induk 5 ekor 7,500,000 37,500,000
2 Hijauan (Induk) 164,250 kg 100 16,425,000
Hijauan (Bakalan) 109,500 kg 100 10,950,000
3 Kosentrat 16,425 kg 1,000 16,425,000
4 Obat hewan/Vitamin 3 Paket 100,000 300,000
5 Kompos 136,875 kg 200 27,375,000
6 Tenaga Kerja 1,095 Hari 20,000 21,900,000
Jumlah 130,875,000

III Keuntungan 32,562,500
B/C 1.25


9. Usaha Agribisnis Peternakan
9.1. Usaha Agribisnis di Hulu
Usaha agribisnis hulu terdiri dari (1) Penyediaan Pakan baik pakan hijauan maupun pakan kosentrat. (2) Penyediaan bibit berupa calon – calon induk, dan calon - calon pejantan (3) Penyediaan Obat-obatan.
Biaya terbesar dari usaha peternakan sapi potong baik untuk menghasilkan bakalan maupun untuk menghasilkan daging adalah pakan, yang diperkirakan mencapai 70 s/d 80%. Dengan pola pengembang di Kawasan baik pada kawasan prioritas maupun kawasan integrasi yang di dalamnya diharapkan seluruh faktor produksi sudah mampu di penuhi dalam kawasan, sehingga biaya pakan dan operasional lainnya dapat ditekan secara signifikan, sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing yang tinggi. Untuk sapi penggemukan maka dibutuhkan ransum rasional yang berkualitas namun tetap murah, dalam hal ini diharapkan biaya ransum untuk meningkatkan bobot badan masih ekonomis. Dengan tersedianya bahan pakan asal limbah atau hasil sampingan pertanian/perkebunan maupun agroindustri mampu menyediakan bahan pakan yang ekonomis dan berlualitas. Inovasi bahan pakan murah yang berasal dari hasil sampingan tersebut telah mulai dikenal masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan yang secara kontinue dilakukan dan hal ini perlu diteruskan.
Ketersediaan bakalan memiliki arti penting dalam peningkatan produksi dan produktifitas, saat ini sangat-sangat dalam kondisi kritis baik bakalan bibit maupun bakalan kreman/penggemukan. Banyaknya permintaan terhadap bakalan bibit dan bakalan kreman akan memberi dampak terhadap penurunan populasi ternak sapi potong di Sumatera Barat, bila ini dibiarkan terjadi maka untuk masa yang akan datang Sumatera Barat akan sangat tergantung dari pasokan dari luar propinsi. Mutu bibit saat ini mengalami degradasi yang signifikan, hal ini terlihat dari performan ternak sapi lokal Sumatera Barat seperti sapi pesisir yang mengalami penurunan performan seperti tinggi, berat hidup dan berat karkas. Hal ini disebabkan terjadinya inbreeding dan rendahnya kualitas pakan yang dikonsumsi akibat manajemen pengelolaan usaha yang masih rendah.
Semen beku merupakan salah satu faktor penting pembentuk keberhasilan pembangunan peternakan sapi potong di sub sistem agribisnis hulu. Selama ini kebutuhan semen beku di datangkan dari BIB Lembang dan BIB Singosari. Banyak permasalahan yang terjadi antara lain keterlambatan pasokan semen beku, harga yang cukup tinggi, kualitas dll. Keberadaan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Tuah Sakato di Payakumbuh yang diresmikan pada tanggal 27 juli 2001 merupakan langkah maju dalam mengatasi permasalahan keterasediaan semen beku untuk pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) di Sumatera Barat. Saat ini BIB Tuah Sakato telah mampu memproduksi semen beku sapi potong, kerbau dan direncanakan pada tahun 2008 dilakukan diversivikasi usaha di BIB Tuah Sakato dengan memproduksi semen beku kambing.
Alat dan mesin peternakan untuk keperluan usaha sapi potong telah banyak di manfaatkan oleh peternakan yang sumber dan perawatanya telah banyak tersedia di Sumatera Barat. Kebutuhan alat dan mesin peternakan untuk usaha peternakan semangkin berkembang mulai dari yang sederhana dan keberadaan bengkel produksi dan bengkel perawatan semangkin berkembang, melalui pembinaan dari Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat, Dinas Yang menaganni Fungsi peternakan Kab/Kota Se Sumatera Barat dan Dinas – Dinas Teknis lainya. Namun pemanfaatan alat dan mesin peternakan masih kurang dan kadang tidak tepat sasaran penggunaanya.
Untuk menjamin sapi dapat berkembang dengan baik dan dapat terhindar dari ancaman penyakit yang berbahaya, perlu ketersediaan vaksin dan obat – obatan yang memadai. Biaya penanganan kesehatan hewan idealnya tidak boleh melebihi 2 – 5 % dari biaya produksi (Rp. 50 – 100 juta untuk setiap 1000 ekor sapi). Usaha Pencegahan menjadi prioritas karena akan membutuhkan biaya yang lebih kecil. Untuk kebutuhan itu maka peningkatan laboratorium dan sdm menjadi perhatian utama.
Kondisi usaha agribisnis hulu pada usaha ternak sapi potong adalah sebagai berikut ;
1. Usaha penyediaan bibit sapi potong berupa penakar bibit ternak sapi yang berada pada kawasan penakar bibit (VBC) di Sumatera Barat masih berupa usaha pembibitan ternak rakyat. Saat ini terdapat 15 kawasan penakar bibit sapi potong dan ± 54 kelompok penakar bibit sapi potong di Sumatera Barat. Permasalahan yang dihadapi (1) skala usaha yang masih kecil 1 s/d 3 ekor yang disebab kurangnya modal peternak. (2) bibit masih kurang (3) mutu bibit relatif rendah (4) sdm peternak relatif masih rendah, (5) sistem usaha masih tradisional.
2. Pemanfaatan Pakan ternak berkualitas terutama Hijauan Makanan Ternak dan pakan kosentrat relatif masih kurang diberikan pada ternak. Hal ini disebabkan ketersediaan pakan hijauan dan kosentrat dibeberapa daerah masih kurang dan lemahnya sdm peternak.
3. Obat-obatan belum mencukupi dan harganya mahal untuk itu harus ada alternatif mengatasinya melalui obat-obat alternatif seperti obat-obat herbal berupa jamu dll.

9.2. Usaha Agribisnis di On Farm (budidaya)
Usaha agribisnis di On farm merupakan usaha pembudidayaan ternak yang terdiri dari 4 unsur yaitu (1) Peternakan Rakyat/Dunia Usaha (2) Integrasi (dengan pertanian tanaman pangan dan holtikultura, perkebunan) (3) Usaha penggemukan dan pembibitan, (4) Manajemen.
Usaha peternakan sapi potong di Sumatera Barat lebih banyak diusahakan oleh peternakan rakyat disamping oleh dunia usaha. Skala usaha peternakan rakyat berkisar antara 1 s/d 3 ekor, beberapa peternak skala usahanya sudah mencapai 5 s/d 6 ekor. Beberapa dunia usaha telah menanamkan investasinya dalam usaha peternakan sapi potong baik pada penggemukan maupun pembibitan. Permasalahan dalam usaha budidaya ternak sapi potong di Sumatera Barat adalah :
1. Tingkat produksi, produktivitas dan reproduktifitasnya masih rendah.
2. Usaha masih belum komersial, masih berupa usaha sampingan, menjadikan ternak sapi potong sebagai tabungan.
3. Pemberian pakan ternak masih belum optimal/seadanya belum memperhatikan aspek kebutuhan untuk hidup pokok dan kebutuhan produksi.
4. Sistem pengelolaan secara ekstensif belum tergarap dengan baik (padang pengembalaan mini) padahal beberapa kawasan berpotensi untuk digarap seperti Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam dll. Pada kawasan ini telah terdapat koloni ternak sapi lokal yang berkeliaran tampa sentuhan manajemen yang baik, sehingga merusak keindahan, keamanan dan ketentraman masyarakat, disamping itu ini juga menjadi biang penurunan kualitas dan produktifitas ternak sapi lokal Sumatera Barat akibat perkawinan yang tidak terkendali (inbreeding).
5. Belum tergarap dengan optimal integrasi tanaman dengan ternak, padahal ini merupakan prospek untuk meningkatan produksi dan produktifitas komoditi sektor pertanian, karena hubungan yang saling menguntungkan atar sub sektor pada sektor pertanian terutama tanaman dengan ternak.
Dalam pembudidayaan sapi potong, peran integrasi antar komoditi pada sektor pertanian sangat penting artinya. Hal ini disebabkan sumberdaya komoditi pertanian lainnya seperti tanaman pangan, holtikultura dan perkebunan prospek pengembanganya sangat besar. Banyak komoditi pertanian tanaman pangan dan holtikultura yang bisa di integrasikan dengan sapi potong seperti padi, jagung, pisang dll, begitu juga dengan komoditi perkebunan seperti sawit, coklat, karet dll, baik dalam bentuk integrasi tertutup (satu komoditi yang menberi) maupun integrasi terbuka (dua atau lebih komoditi saling memberi dan menerima).
Keberadaan sapi potong memberi sumbangan kebutuhan agroinput seperti pupuk organik, tenaga kerja kepada komoditi lain. Pupuk organik yang dihasilkan oleh ternak sapi potong adalah 40 ton/5 ekor sapi potong/bulan. Hasil pupuk organik ini mampu memenuhi kebutuhan pupuk lahan pertanian dan perkebunan seluas ± 1 s/d 2 Ha tampa memanfaatakan pupuk anorganik. Manfaat lain dari pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah, berbeda dengan pupuk anorganik dengan pemakaian terus menerus akan dapat merusak struktur tanah dan untuk memperbaikinya menbutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar.
Usaha peternakan sapi potong banyak diusahakan dalam usaha penggemukan, pembibitan dan kombinasi penggemukan dan pembibitan. Persoalan yang sering terjadi adalah sulitnya mendapat bakalan baik bibit maupun bakalan penggemukan. Hal ini disebab masih kurangnya penakar-penakar bibit yang ada di Sumatera Barat di banding tingkat kebutuhan lokal maupun regional. Banyaknya bakalan bibit sapi asal Sumatera Barat yang keluar daerah disebabkan kualitas bibit sapi terutama sapi hasil persilangan dengan sapi unggul seperti Simmental.
Keberhasilan budidaya ternak sapi potong tidak lepas dari peran manajemen usaha yang baik. Kondisi saat ini dampak dari lemahnya manajemen usaha ternak sapi potong adalah tingkat produktifitas yang rendah karena pemeliharaan masih secara tradisional, di samping itu penangganan kesehatan hewan yang masih rendah. Hal ini disebabkan tingkat sumberdaya peternak kita masih rendah, ditambah dengan kurangnya penyuluhan, bimbingan dari aparatur.

9.3. Usaha Agribisnis di Hilir
Usaha agribisnis hilir disub sektor peternakan yang dapat dikembangkan adalah dari bahan mentah pertama yaitu ; daging, kulit, darah, tulang, dan kotoran. Fasilitas utama yang perlu disediakan adalah RPH/TPH dan tempat penyimpanan yang memadai. RPH yang ada sekarang sebanyak 7 Unit dan TPH sebanyak 32 Unit harus dioptimalkan pemanfaatanya dan pembangunan RPH/TPH baru perlu kajian terlebih dahulu.
Saat ini kondisi RPH/TPH yang ada belum sesuai dengan standar kelayakan sebuah RPH dan TPH. Standar kelayakan RPH adalah harus mempunyai Nomor Kontrol Veteriner (NKV), Good Manufacturing Practice (GMP), dll. Untuk itu perlu dilakukukan perbaikan bangunan RPH/TPH dan melengkapi fasilitas RPH/TPH serta pembenahan manajemen pengelolaan RPH/TPH yang baik.
Industri rumah tangga pengolahan daging sapi seperi Rendang, dendeng, dll telah banyak diusahakan di Sumatera Barat yang perlu penanganan dan pembinaan lebih lanjut. Diharapkan nantinya Industri pengolahan yang melibatkan seluruh hasil produk turunan dari ternak sapi potong perlu di pikirkan dan direncanakan dengan melalui kajian terlebih dahulu seperti industri kompos, corned beef , tepung darah dll.
Penyediaan outlet penjualan daging yang higienis perlu dikembangkan agar masyarakat mendapatkan daging yang layak (ASUH). Saat ini kondisi los daging dan outlet daging di Sumatera Barat sangat tidak higienis, dengan kondisi ruangan yang becek, kotor tidak tertutup, serta meja tempat hamparan daging yang kotor. Kondisi ini diperparah dengan jarangnya los daging dan outlet daging tersebut dibersihkan. Melalui Anggaran Direktorat PPHP tahun 2007 dan 2008 telah dialokasikan anggaran untuk rehabilitasi los daging di beberapa daerah di Sumatera Barat. Pada tahun 2010 diharapkan seluruh los daging dan outlet daging telah memenuhi standar kelayakan sebuah tempat penjualan daging, untuk itu perlu melibatkan seluruh unit kerja terkait untuk melakukan percepatan realisasi penyediaan tempat penjualan daging sapi yang higienis.

9.4. Usaha Agribisnis di Perdagangan dan Pemasaran
Pasar ternak yang ada sebanyak 29 unit perlu dikelola secara profesional agar dalam pemasaran tataniaga ternak tidak merugikan peternak. Saat ini kondisi pasar ternak yang ada di Sumatera Barat basih banyak yang belum memenuhi standar Pasar Ternak baik kondisi pasar maupun pengelolaan pasar itu sendiri. Ada beberapa pasar ternak yang perlu mendapatkan perhatian yang serius berhubung karena pasar tersebut merupakan pasar ternak regional yang telah memiliki segmen pasar yang jelas seperti pasar ternak Palangki, Muaro Panas, Batusangkar, Sei Sarik, dll. Penambahan pasar ternak baru terutama pasar ternak regional pperlu suatu kajian terlebih dahulu. Sumber pembiayaan dapat dari APBD, APBN, DAK dan dana lain dari Dinas Teknis yang mempunyai fungsi mendukung kegiatan tersebut.

10. Integrasi Komoditi dan Program
Sedikitnya ada tiga topik yang terkait erat dengan pengembangan usaha peternakan komoditi unggulan sapi potong di Sumatera Barat yaitu komoditi yang terkait dengan sektor pertanian tanaman pangan dan holtikultura, sektor perkebunan dan sektor perikanan..

10.1. Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura
Potensi persawahan di Sumatera Barat cukup menjanjikan untuk ditanami padi dan palawija guna pemenuhan kebutuhan pangan. Pola budidaya padi sawah di Sumatera Barat sudah menggunakan teknologi pertanian dengan penggunaan pupuk dan peptisida serta penggunaan alat dan mesin pertanian untuk pengolahan lahan dan penanganan pasca panen. Namun dampaknya agroinput untuk penggunaan teknologi ini amat tinggi, sehingga hasil yang diterima petani tidak sesuai dengan masukan yang diberikannya.
Tanaman pangan yang diusahakan di Sumatera Barat adalah padi, jagung, umbi-umbian serta tanaman holtikultura berupa tanaman muda seperti sayuran, buah-buahan dll. Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan dapat dilihat pada tabel 17 berikut ini.






Tabel 17. Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan
No Jenis Komoditi Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi
(Ton)
1. Padi Sawah 431.498 417.846 1.889.489
2. Jagung 47.131 43.010 202.298
3. Ubi Kayu 6.736 7.800 133.095
4. Ubi Jalar 3.849 4.146 53.758
5. Sayur-sayuran 27.015 27.156 275.623
6. Kacang tanah 7.622 8.017 10.116

Dari tabel diatas, terlihat bahwa sebenarnya potensi sumber pakan hijauan berupa limbah pertanian cukup sangat tersedia untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak di Sumatera Barat. Pada Kabupaten dan Kota yang menetapkan komoditi unggulan adalah ternak sapi potong maka sinergitas komoditi dan program sangat perlu sekali. Integrasi antara tanaman dengan ternak dalam hal ini sapi potong merupakan program prioritas dalam pencapaian pertumbuhan komoditi unggulan dan komoditi penunjang selanjutnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi pada Kabupaten dan Kota yang bersangkutan dan Sumatera Barat khususnya.
Tabel 18 dan 19 menggambarkan Luas Panen dan Produksi Padi, Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar yang dapat di integrasikan dengan ternak sapi potong pada 8 (delapan) Kabupaten dan Kota yang komoditas unggulannya sapi potong.



Tabel 18. Luas Panen Padi, Jagung, Ubi Jalar dan Ubi kayu di 8 (delapan) Kabupaten dan Kota.
No Jenis Komoditi Padi (Ha) Jagung (Ha) Ubi Jalar
(Ha) Ubi Kayu
(Ha)
1. Kab. Pessel 49.357 3.690 133 599
2. Kab. Solok 52.553 538 993 441
3. Kab. Swl/Sjj 16.193 164 26 167
4. Kab. P. Pariaman 45.931 620 32 676
5. Kab. Agam 49.583 3.204 1.173 622
6. Kab. Solsel 16.559 466 36 88
7. Kab. Dharmasraya 5.549 306 52 1.784
8. Kota Payakumbuh 7.097 310 23 332

Tabel 19. Produksi Padi, Jagung, Ubi Jalar dan Ubi kayu di 8 (delapan) Kabupaten dan Kota.
No Jenis Komoditi Padi (Ton) Jagung (Ton) Ubi Jalar
(Ton) Ubi Kayu
(Ton)
1. Kab. Pessel 220.394 14.814 1.517 9.921
2. Kab. Solok 248.871 2.245 10.556 7.304
3. Kab. Swl/Sjj 67.422 791 301 2.892
4. Kab. P. Pariaman 202.045 2.480 364 11.638
5. Kab. Agam 233.490 14.339 17.198 11.254
6. Kab. Solsel 76.060 1.787 382 1.454
7. Kab. Dharmasraya 22.671 1.351 601 30.889
8. Kota Payakumbuh 32.543 1.192 264 5.628

Dari tabel 18 dan tabel 19 terlihat bahwa hasil sampingan dan limbah yang mungkin dihasilkan dari produksi 4 (empat) komoditi di sektor pertanian mampu menopang kebutuhan pakan ternak sapi potong pada kawasan komoditi unggulan sapi. Sebaliknya hasil sampingan dan limbah ternak sapi potong berupa pupuk organik mampu menopang peningkatan produktifitas ke 4 komoditi tersebut, sehingga keterpaduan dan sinergitas komoditi dan program antara komoditi unggulan sapi potong dengan ke 4 komoditi sektor pertanian pada kawasan unggulan sapi potong menjadi sangat penting.


10.2. Perkebunan
Tanaman perkebunan rakyat yang paling banyak diusahakan masyarakat di Sumatera Barat yang dapat di integrasikan dengan ternak sapi potong adalah tanaman karet, kelapa, coklat, dan sawit. Luas areal dan produksi perkebunan di Sumatera Barat seperti terlihat pada tabel 20 dan di 8 Kabupaten Kota dengan komoditi unggulan sapi potong pada tabel 21.
Tabel 12. Luas Areal dan Produksi Perkebunan
No Jenis Komoditi Luas Areal (Ha) Produksi (Ton)
1. Kelapa 89.313 78.678
2. Kopi 48.714 29.909
3. Coklat 36.360 18.721
4. Sawit 276.410 694.234

Tabel 13. Luas Areal Perkebunan Kelapa, Kopi, Coklat dan Sawit di 8 (delapan) Kabupaten dan Kota.
No Jenis Komoditi Kelapa (Ha) Kopi (Ha) Sawit
(Ha)
1. Kab. Pessel 5.895 9.012 9.969
2. Kab. Solok 2.800 8.954 -
3. Kab. Swl/Sjj 1.734 909 1.396
4. Kab. P. Pariaman 38.447 398 283
5. Kab. Agam 11.318 3.404 13.838
6. Kab. Solsel 1.579 11.907 3.005
7. Kab. Dharmasraya 972 526 27.117
8. Kota Payakumbuh 730 23 -

Produksi kelapa, kopi, coklat dan sawit pada Kabupaten Kota dengan komoditi unggulan sapi potong pada tabel 22.


Tabel 22. Produksi Perkebunan Kelapa, Kopi, Coklat dan Sawit di 8 (delapan) Kabupaten dan Kota.
No Jenis Komoditi Kelapa (Ton) Kopi (Ton) Sawit
(Ton)
1. Kab. Pessel 4.958 4.983 16.767
2. Kab. Solok 3.400 5.563 -
3. Kab. Swl/Sjj 1.603 440 3.207
4. Kab. P. Pariaman 33.357 186 381
5. Kab. Agam 10.747 2.465 31.456
6. Kab. Solsel 1.776 7.679 7.555
7. Kab. Dharmasraya 804 268 65.427
8. Kota Payakumbuh 499 14 -

Melihat potensi sub sektor perkebunan maka pengembangan kedepan sangat menjanjikan, potensi ini akan lebih berkembang bila terjadi sinergitas program dan kegiatan atar lintas sektoral. Sebagai komoditi unggulan sapi potong punya peran strategis dalam pemanfaatan potensi pada sub sektor perkebunan tersebut dimana untuk 1 Ha lahan perkebunan dapat menampung ± 4 ekor sapi potong. Daya tampung lahan perkebunan untuk 8 kabupaten dan kota tersebut mencapai 617.244 ekor. Sementara itu kemampuansapi potong menyumbang kebutuhan pupuk organik sebesar ± 40 ton/5 ekor sapi potong/bulan.
Mencermati sektor pertanian secara keseluruhan ada dua kecendrungan yang terjadi. Pertama, jenis-jenis tanaman dan produksinya yang tergantung pada kawasan luar. Misalnya kedele. Sehingga perlu didatangkan dari luar, dan tidak kompetitif bila dikembangkan pada kawasan. Kedua, jenis tanaman yang punya peluang besar untuk bertumbuh lebih cepat, misalnya padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar. Tanaman perkebunan seperti kelapa, kopi sawit dll juga masuk kategori ini.
Untuk pengembangan ternak sapi potong sangat potensi diintegrasikan dengan komoditi-komoditi lingkup pertanian baik dari tanaman panagan dan holtikultura maupun dari komoditi perkebunan, seperti pada peluang kedua dipejelasan terdahulu.



























BAB III
PROSPEK, POTENSI, ARAH DAN BAGAN PENGEMBANGAN


1. Prospek
Pengembangan ternak sapi di Sumatera Barat mempunyai prospek yang baik, karena tersedianya peluang pasar untuk memenuhi kebutuhan lokal, regional, dan ekspor. Kebutuhan lokal dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan Sumatera Barat sendiri. Kebutuhan regional termasuk Riau dan Jambi. Permintaan ekspor dimaksudkan untuk Negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Di samping itu juga terdapat prospek untuk pengembangan agribisnis ternak sapi dari hulu sampai ke hilir dan pengembangan Sumberdaya manusia (SDM).

1.1. Peningkatan Produksi untuk Memenuhi Kebutuhan Lokal, Regional dan Ekspor
Kebutuhan lokal Propinsi Sumatera Barat terhadap daging sapi cenderung naik dengan meningkatnya pendapatan, kesadaran akan gizi, dan pertambahan penduduk. Produksi daging sapi di Sumatera Barat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2002-2006) naik dari 10.086.249 menjadi 15.561.671 kg dengan laju pertumbuhan rata-rata 10,14% per tahun. Sementara itu konsumsi daging sapi naik dari 8.419 ton pada tahun 2002 menjadi 10.343 ton pada tahun 2006. Berdasarkan kecendrungan tersebut, perkiraan produksi dan konsumsi daging di Sumatera Barat lima tahun ke depan adalah seperti pada table berikut:



Tabel 23. Perkiraan Produksi dan Konsumsi Daging Sapi di Sumatera Barat Tahun 2008-2012
No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1 Perkiraan Produksi (ton) 18.877,6 20.791,8 22.875,7 25.209,9 27.779,6
2 Perkiraan Konsumsi (Ton) 9.429 9.730 10.031 10.369 10.688
3 Gap (Ton) -9.448,6 -11.061,8 -12.844,7 -14.849,9 -17.091,6

Dari data di atas terlihat bahwa untuk tingkat lokal Sumatera Barat produksi daging sudah melebihi konsumsi untuk lima tahun ke depan. Untuk itu terbuka peluang untuk melakukan pengeluaran daging ke luar Sumbar, baik regional maupun ekspor ke Malaysia dan Brunei Darussalam sebesar gap yang ada. Permintaan daging untuk propinsi Riau tahun 2005 sebesar 36.504 ton dan propinsi Jambi 19.974 ton (Arah Kebijakan Pemerintah Sumbar untuk Memenuhi Swasembada Daging 2010). Artinya terdapat potensi untuk mensupply daging ke propinsi Riau dan Jambi. Pada tahun yang sama propinsi Riau memasukkan sapi netto sebanyak 15.754 ekor dan Jambi 9.418 ekor. Angka ini menunjukkan tersedianya peluang bagi Sumatera Barat untuk mengisi kebutuhan sapi ke dua propinsi tetangga tersebut.
Peluang ekspor sapi potong dan daging juga terbuka untuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Pemerintah Negara tersebut telah mengemukakan keinginannya untuk mendatangkan sapi potong dari Sumatera Barat. Berarti dari segi peluang pasar cukup tersedia. Persoalannya bagaimana memenuhi permintaan regional dan ekspor tersebut ke depan, dalam artian bagaimana memanfaatkan potensi yang ada.
Dalam jangka panjang, permintaan terhadap ternak sapi untuk daerah tetangga juga cukup prospektif. Table berikut menggambarkan bagaimana peluang konsumsi pangan hewani di Sumatera Tengah tahun 2012.
Tabel 24. Perkiraan Produksi Konsumsi dan Gap Beberapa Jenis Pangan Hewani di Sumatera Tengah tahun 2012
No Propinsi/Jenis Pangan Hewani Produksi (Ton) Konsumsi (Ton) Gap(Ton)
1 Sumbar
a. Daging 51.486,6 46.857,5 4.629,2
b. Telur 158.366 42.846 115.520
c. Susu 7.174 5.221 1.953
2 Riau
a. Daging 45.357 65.316 19.959
b. Telur 139.513 59.725 -79.788
c. Susu 6.320 7.278 958
3 Jambi
a. Daging 25.743 29.814 4.075
b. Telur 79.183 27.266 -51.917
c. Susu 3.587 3.322 -265


2. Pengembangan Usaha Daging Olahan
Daging sapi dapat diolah terutama di Sumatera Barat menjadi dendeng dan rendang. Dapat juga diolah menjadi abon. Sejauh ini peluang ini belum banyak dimanfaatkan oleh kalangan agribisnis peternakan. Dendeng dan rendag sebagai makanan spesifik Sumatera Barat sudah dikenal di selutuh daerah di Indonesia, bahkan ke Malaysia. Namun usaha ini belum banyak dikembangkan. Abon sapi juga merupakan makanan spesifik yang diolah dari daging.
Permintaan terhadap produk ini sudah cukup banyak. Namun sedikit sekali pengusaha yang masuk dalam usaha ini, apalgi dari kalangan peternak. Saat ini usaha ini termasuk dalam usaha makanan tradisional Minangkabau yang dikelola sebagian kecil pengusaha.

1.3. Pengembangan Usaha Industri Kulit
Hasil ikutan pengolahan daging sapi antara lain kulitnya. Kulit bisa diolah menjadi berbagai jenis produk melalui industri kulit. Produk industri kulit bisa berupa kulit untuk sepatu, ikat pinggang, tas, danlain-lain. Saat ini kulit masih banyak dimanfaatkan sebagai kerupuk kulit. Dengan mengintroduksi teknologi yang lebih baik, kulit bisa diobah menjadi barang industri yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi.
Usaha kerajinan yang memanfaatkan kulit sebagai bahan baku sudah bermunculan, seperti usaha tas kulit, dompet, ikat pinggang, dan lain-lain. Usaha ini membutuhkan pasokan dari industri kulit sapi disamping kulit hewan lainnya. Industri penyamakan kulit yang pernah ada di Sumatera Barat terdapat di kota Padang Panjang. Saat ini perkembangannya tidak menggembirakan. Ke depan peluang ini bisa dimanfaatkan untuk menciptakan peningkatan pendapatan melalui diversifikasi produk peternakan sapi potong .

1.4. Pengembangan Usaha Tani Sapi Potong Terpadu
Usahatani sapi potong terpadu merupakan tambahan cabang usahatani dari usahatani sapi potong dimana produk (output) dari usaha sapi potong bis menjadi input bagi cabang usahatani lainnya dan sebaliknya. Sapi potong dapat dipadukan dengan sawit atau kelapa. Saat ini terdapat perkebunan sawit di daerah sentra sapi potong seperti di Pasaman Barat, Sawahlunto/Sijunjung. Di Kabupaten Padang/Pariaman terdapat banyak kebun kelapa. Usahatani terpadu sapi potong dan sawit serta kelapa berpeluang untuk meningkatkan pendapatan petani/peternak.

2. Potensi Pengembangan
Terdapat potensi untuk pengembangan agribisnis sapi potong di Propinsi Sumatera Barat, yaitu untuk: 1) peningkatan produksi sapi potong untuk memenuhi kebutuhan lokal, regional, dan ekspor, 2) Pengembangan usaha daging olahan, 3) pengembangan usaha industri kulit, 4) pengembangan usaha sapi potong terpadu.
Prospek tersebut tidak dapat diwujudkan tanpa melihat potensi sosial ekonomi petani/peternak sebagai pelaku utama. Perlu dipahami permasalahan dan harapan petani/peternak sebagai pelaku utama agribisnis peternakan sapi potong .

2.1. Peningkatan kualitas SDM
SDM peternakan sapi saat ini dapat dikelompokkan atas kualitas yang sebagian masih rendah, terutama peternak rakyat. Sedangkan perusahaan peternakan mempunyai kualitas yang lebih baik. Kualitas aparatur peternakan jauh lebih baik lagi dari segi strata pendidikan yang diikuti. Semua tingkatan ini mempunyai prospek untuk ditingkatkan kualitasnya sehubungan dengan peningkatan usaha peternakan menjadi usaha komersial dan berbasis iptek.


2.2. Peningkatan Pengadaan Bibit dan Bakalan
Peningkatan usaha peternakan sapi potong menyebabkan permintaan terhadap bibit sapi potong serta sapi bakalan akan meningkat. Untuk pengadaan bibit dapat didatangkan sapi dari luar daerah dan meningkatkatkan kelahiran sapi di dalam daerah sendiri dengan mengoptimalkan produktifitas ternak melalui IB atau ET.
Balai Inseminasi Buatan yang ada saat ini berpeluang untuk meningkatkan skala produksi serta kualitas produksinya seirama dengan peningkatan permintaan terhadap sapi potong bibit dan bakalan untuk digemukkan.

2.3. Pemanfaatan Lahan Terlantar dan Air
Saat ini di Sumatera Barat masih banyak terdapat lahan kosong yang belum termanfaatkan. Demikian juga dengan sumber air, baik berupa aur tanah maupun air permukaan yang berasal dari sungai yang banyak terdapat di Sumatera Barat. Program PLA yang diperkenalkan oleh Departemen Pertanian baru memanfaatkan sebagian kecil dari lahan dan sumberdaya air yang tersedia. Ke depan potensi ini bisa ditingkatkan pemanfaatannya.

2.4. Peningkatan Produksi, Pengembangan Usaha, dan Kesejahteraan Petani/Peternak Melalui Pengembangan Kelembagaan Kelompok Tani/Ternak.
Pengembangan kelembagaan dalam bentuk Kelompok Tani/Ternak merupakan kebutuhan bagi petani/peternak dalam memperkuat posisinya dalam berusaha. Pengembangan kelembagaan dilakukan melalui peninkatan majnajemen kelompok, yang meliputi: perencanaan kegiatan kelompok yang baik dan benar, pengorganisasian kelompok, pelaksanaan kegiatan kelompok berupa pertemuan/diskusi kelompok secara teratur, peningkatan partisipasi anggota, penerapan iptek dalam berusaha, serta melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana kelompok.
Penguatan kelompok sangat penting dilakukan untuk meningkatkan poisisi tawar (bargaining position) petani/peternak sapi potong . Petani/peternak secara sendiri tidak efektif untuk menyuarakan kepentingannya, karena itu diperlukan kelompok yang kuat dan solid. Disamping itu keberadaan kelompok secara ekonomis akan mampu mewujudkan skala usaha yang ekonomis.

2.5. Peningkatan Produksi, Pengembangan Usaha dan Kesejahteraan Petani/ Peternak melalui Pengembangan Permodalan Usaha
Permodalan penting bagi petani/peternak dalam menjalankan usahanya. Saat ini petani/peternak sulit mengakses perbankan dalam mengadakan dana bagi pengelolaan usahanya. Untuk itu diperlukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis yang dapat menjadi sumber pengadaan biaya pada saat berproduksi dan menabung pada saat panen. Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dapat menjadi fasilitator pendirian LKMA, BMT, Koperasi dan lembaga keuangan mikro lainnya dalam menunjang permodalan usaha bagi petani/peternak sapi potong .

2.6. Pengembangan industri pasca panen
Untuk meningkatkan diversifikasi produk sapi serta meningkatkan nilai tambahnya, industri pasca panen sangat potensial untuk dikembangkan. Diantaranya adalah industri dengdeng, abon, rendang, industri kulit, pakan ternak, dan lain sebagainya.

2.7. Pengembangan Pemasaran
Permintaan terhadap daging sapi yang cukup tinggi, merupakan terdapatnya peluang pasar yang juga tinggi. Ke depan pemasara ini bisa dikembangkan lebih menguntungkan bagi semua pelaku ekonomi ternak sapi .

3. Arah Pengembangan
Untuk memanfaatkan potensi dan prospek yang dimiliki peternakan sapi potong seperti di atas, maka arah pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

3.1. Peningkatan Produksi Dan Produktifitas Sapi Potong .
Untuk meningkatkan produksi dan produktifitas sapi potong diperlukan penerapan teknologi reproduksi yang baik dan benar. Produktifitas sapi potong di Sumatera Barat masih dapat ditingkatkan. Penyebab rendahnya produktifitas antara lain: a) musim kawin yang tidak tepat, b) rendahnya kualitas bibit, c) adanya penyakit ternak yang menyebabkan kematian, dan d) pemeliharaan yang kurang baik.
Teknologi reproduksi seperti IB dan ET perlu dioptimalkan. Untuk itu diperlukan ketersediaan semen yang baik dan cukup dengan tenaga inseminator yang memadai. Ketepatan dan kecepatan sistem pelayanan kepada peternak sangat menentukan tingkat kebuntingan dan kelahiran sapi potong.

3.2. Peningkatan Kualitas SDM
SDM petani/peternak umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang relatif rendah seperti SD dan SLTP. Penerapan manajemen usaha yang baik memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang cukup. Untuk itu kualitas SDM petani/peternak perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan latihan orang dewasa.

3.3. Pengembangan Kelembagaan Kelompok Tani/ Ternak
Kelompok Tani/Ternak perlu diberdayakan melalui pengembangan Kelompok dan Gabungan Kelopok Tani/Ternak. Di samping itu kelembagaan penyuluhan pertanian/peternakan perlu ditata da diaktifkan kembali pasca otonomi daerah untuk melakukan pendidikan dan latihan dalam rangka transfer iptek kepada petani/peternak.

3.4. Pengembangan Permodalan Usaha.
Pengembangan permodalan usaha tidak saja diarahkan pada pengadaan skim kredit dan bantuan Cuma-Cuma bagi petani/peternak, tetapi lebih diarahkan pada bagaimana petani/peternak mampu memperkuat permodalan usaha serta mengembangkan kemitraan dengan usaha swasta. Di samping itu juga diharapkan fasilitasi pemerintah dan masyarakat untuk terbentuknya Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis.

3.5. Pengembangan Usaha Pasca Panen, Pengolahan, dan Pemasaran
Pengembangan usaha pasca panen dan pengolahan memerlukan keterampilan dan penguasaan iptek. Untuk diperlukan pendidikan dan latihan bagi petani/peternak dan masyarakat agribisnis untuk bergerak dalam usa diversifikasi produk peternakan sapi potong . Pemerintah dan masyarakat perlu memberikan fasilitasi sesuaidengan keterampilan yang dibutuhkan.
Bagan Pengembangan








BAB IV
TUJUAN DAN SASARAN


Pengembangan usaha peternakan dengan komoditas unggulan sapi potong bertujuan untuk ; (1) meningkatkan manfaat potensi sumberdaya genetik dan sumberdaya peternakan lainya bagi kesejahteraan peternak dan masyarakat, (2) menciptakan kebijakan yang tepat dalam merespon perkembangan kebutuhan lokal, regional dan internasional yang dinamis, (3) mengembangkan agribisnis maupun agroindustri yang berpola kawasan baik dalam kawasan prioritas dan kawasan integrasi yang berbasis ketersediaan bahan pakan sumber serat, protein dan energi, serta memperhatikan ketetersediaan teknologi, kultur budaya masyarakat, agro-ekosistem dan wilayah.
Sasaran yang hendak dicapai adalah ; (1) meningkatkan populasi ternak sapi potong untuk memenuhi kebutuhan lokal, nasional dan regional, (2) menyediakan bahan pangan asal ternak sapi yang cukup dengan harga terjangkau, (3) menjamin produk yang dihasilkan berdaya saing tinggi, sesuai dengan kebutuhan pasar yang menghendaki ASUH, ramah lingkungan dan berkelanjutan (4) mendukung berkembangnya sektor lain sebagai dampak berkembangnya usaha peternakan sapi potong, (5) peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam rangka mengurangi penganguran yang efeknya mengurangi kemiskinan selanjutnya memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan.



BAB. V
ANALISIS LINGKUNAN STRATEGIS


1. Kekuatan, Kelemahan, Peluang Dan Ancaman
Dengan memperhatikan potensi yang tertuang dalam Bab II dari hasil rumusan masukan dari stake holder yang menangani fungsi peternakan diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi sektor pembangunan peternakan Sumatera Barat umumnya dan usaha peternakan sapi potong khususnya dapat di gambarkan sebagai berikut :

1.1. Kekuatan
1. Komitmen Pemerintah Daerah Menetapkan Sapi Potong Sebagai Komoditi Unggulan Daerah pada 8 (delapan) Kabupaten Kota di Sumatera Barat.
2. Kebijakan Pemerintah Menetapkan Kawasan.
3. Komitmen SKPD lingkup Pemerintah Daerah Sumatera Barat untuk melakukan integrasi program dalam memacu laju pembangunan Sumatera Barat.
4. Ketersediaan Sumber Bibit Ternak Besar.
5. Ketersediaan Infrastruktur.
6. Ketersediaan Aparatur pada Dinas Peternakan Dari beberapa Jenjang Pendidikan dan Pelatihan Teknis.
7. Ketersediaan Sumberdaya Alam.
8. Ketersediaan Tenaga Kerja.
9. Daya Dukung Lahan Berpotensi Untuk Peningkatan Populasi (lahan peternakan/padang pengembalaan, lahan tanaman pangan, lahan holtikultura, lahan perkebunan dan hutan).

1.2. Kelemahan
1. Ketersediaan betina produktif masih kurang untuk memacu pertumbuhan populasi,
2. Kurangnya Tenaga Terampil dan Profesional,
3. Kurangnya Ketersediaan Agro Input (Bibit dan Pakan),
4. Sistem Pemasaran Belum Mantap,
5. Lemahnya Dalam Penyusunan Program, Monev dan Koordinasi (integrasi komoditi dan program relatif masih kurang),
6. Lemahnya Kelembagaan Peternak Sapi Potong dan Kelembagaan Bidang Usaha Penunjangnya,
7. Kurangnya Sistem Informasi Peternakan,
8. Skala Usaha di Bidang Peternakan Relatif Masih Kecil,
9. Masih Rendah Dalam Penanganan dan Pengolahan Pasca Panen yang Menyebabkan Tingkat Higienitas Produk Relatif Masih Rendah,
10. Posisi Tawar Produk Peternakan Rendah.,

1.3. Peluang
1. Tersedianya sumber-sumber pembiayaan dan program/kegiatan di luar sub sektor peternakan.
2. Kebijakan pemerintah pusat dalam menetapkan Sumatera Barat sebagai salah satu pelaksana program percepatan swasembada daging sapi tahun 2010.
3. Pengembangan Bioteknologi Dengan Lembaga Pendukung (BET, LIPI PT dll)
4. Ketersediaan Pasar Lokal, Regional dan Internasional Yang Menampung Produk Peternakan.
5. Terbukanya Akses ke Pertumbuhan Segitiga Sijori, IMS-GT, IMT-GT.
6. Adanya Dukungan Dana Dari Pemerintah dan Investor
7. Adanya UU dan Kebijakan Pemerintah di Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
8. Tersedianya Norma, Standar, Pedoman dan Manual.

1.4. Ancaman
1. Pemotongan Betina Produktif dan Keluarnya Betina Produktif yang Berdampak Terhadap Penurunan Laju Pertumbuhan Populasi.
2. Masuknya Daging Ilegal.
3. Terjadinya Kemelut di Bidang Politik, Pertahanan dan Hukum.
4. Terbukanya Pasar Bebas & Era Globalisasi Yang menyebabkan Terjadinya Persaingan Antar Propinsi.
5. Berkembangnya Teknologi di Propinsi Tetangga.
6. Masuknya Wabah Penyakit Hewan Menular.

2. Permasalahan Pembangunan Peternakan
a. Peningkatan kebutuhan pangan asal ternak ruminansia yang dapat memberi dampak terhadap penurunan populasi sapi, kerbau, kambing dan domba.
b. Program pembangunan peternakan relative belum terkosentrasi.
c. Sumberdaya manusia secara kualitas dan kuantitas relative menurun.
d. Kemiskinan rumahtangga pemelihara ternak sebanyak 912 kk.
e. Belum mapannya system pelayanan peternakan dan kesehatan hewan.
f. Belum terstandarnya kualitas produk peternakan.
g. Ketersediaan sistem pembiayaan untuk peternakan rakyat relatif kurang.
h. Kurang terkendalinya pemotongan ternak betina produktif.

3. Faktor Kunci
Faktor kunci adalah faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanan rencana strategis yang telah dirumuskan yaitu :
1. Kebijakan pemerintah dalam penetapan komoditi unggulan daerah dan penetapan kawasan yang di dukung oleh komitmen seluruh SKPD linkup Pemerintah Daerah dalam mengintegrasikan komoditi dan program.
2. Ketersediaan infrastruktur pendukung, pengembangan bioteknologi dan ketersediaan sumberdaya manusia yang dapat di tingkatkan keterampilannya.
3. Potensi Sumatera Barat untuk peningkatan populasi didukung oleh potensi sumberdaya alam, sumber daya manusia dan infrastruktur serta kultur sosial budaya dan peluang pasar yang cukup menjanjikan.
4. Dukungan Pemerintah pusat dalam pengembangan peternakan di Sumatera Barat dengan dukungan dana dan kebijakan.
5. Dukungan masyarakat, perantau, investor dan lembaga keuangan dalam peningkatan pengembangan usaha peternakan di Sumatera Barat.
6. Terbukanya peluang pasar lokal, regional dan internasional.

5. Dukungan Kebijakan Strategis
Dukungan kebijakan strategis merupakan bentuk dukungan yang ada baik dari tingkat pusat sampai kedaerah yang akan mendukung pelaksanan dari rencana yang telah dibuat. Dukungan kebijakan strategis tersebut adalah :
1. Kebijakan penetapan komoditi unggulan daerah berupa ternak sapi potong untuk 8 (delapan) Kabupaten Kota di Sumatera Barat.
2. Kebijakan revitalisasi pembangunan peternakan yang disepakati antara propinsi dengan seluruh Kabupaten/Kota se Sumatera Barat ; penganggaran, penanganan pemotongan hewan, penanganan pasar ternak, penjaminan pembiayaan keuangan, pola bantuan masyarakat dll.
3. Pembangunan infrastruktur peternakan ; pembangunan dan rehabilitasi Pusat Pelayanan Peternakan, Pos Pelayanan Peternakan, Pos IB, Poskeswan, TPH, RPH, Pasar Ternak, BIB, Pos Chek Point, Perluasan Lahan, Jaringan irigasi untuk usaha peternakan, jalan usaha tani dan jalan produksi.
4. Kebijakan pemasaran dan perdagangan.
5. Pengembangan industri peternakan; agroindustri skala kecil dam menengah.
6. Kebijakan permodalan/pembiayaan untuk pengembangan usaha pola bagi hasil/syariah.
7. Kebijakan investasi; mendorong minat investor untuk berinvestasi di sektor peternakan.
8. Kebijakan pembiayaan anggaran pembangunan lebih ditingkatkan pada sektor peternakan dan sektor – sektor pendukungnya.
9. Perhatian Pemda (Propinsi/Kab/Kota) untuk sektor peternakan ; Pemb. Infrastruktur, pemberdayaan SDM, penetapan satu instansi yang berdiri sendiri menangani sektor peternakan dan alokasi dana APBD yang memadai.
BAB. VI
KEBIJAKAN, STRATEGI, PROGRAM DAN KEGIATAN


1. Kebijakan
Untuk mencapai tujuan dan sasaran diperlukan penetapan kebijakan dalam pengembangan komoditas unggulan sapi potong :
a. Berorientasi pada petani/peternak dan pelaku agribisnis peternakan dan agroinustri.
b. Pengembangan pada kawasan prioritas dan kawasan integrasi.
c. Integrasi komoditi dan program /kegiatan antar unit kerja teknis dan nonteknis
d. Menjamin produk sapi potong dan turunanya mempunyai daya saing, sesuai dengan kebutuhan pasar dan ramah lingkungan.
e. Melindungi dari serbuan produk dumping, ilegal atau yang tidak ASUH
f. Mencegah pemotongan hewan betina produktif.
g. Mencegah ekspor/pengeluaran sapi betina produktif.
h. Mencegah dan melarang masuknya daging dari negara yang belum bebas penyakit berbahaya.
i. Mendorong swasta untuk mengembangkan ternak komersil yang produktif untuk dikembangkan dan di kawin silangkan dengan ternak lokal.
j. Pemberian insentif bunga rendah.
k. Kebijakan pengembangan diversivikasi produk daging olahan.
l. Meningkatkan sarana dan prasarana usaha agribisnis sapi potong.


2. Strategi
2.1. Strategi Pada Sub Sistem Hulu
a. Meningkatkan populasi dengan cara mengembangkan bibit sapi lokal dan sapi persilangan dengan pejantan unggul dari jenis simmental, Brahman Croos dll pada daerah kawasan komoditi unggulan sapi potong (2008 – 2012).
b. Memperbaiki teknologi reproduksi dan bibit sapi untuk peningkatan mutu genetik melalui seleksi dan penjaringan, pembentukan ternak melalui up greding yang dilakukan dengan pola inseminasi buatan dan intensifikasi kawin alam (2008 – 2012).
c. Sistem perbibitan yang murah dan efisien, terintegrasi dengan tanaman pangan, perkebunan dan pemanfaatan pakan lokal (2008 – 2012).
d. Pemanfaatan hasil samping pertanian, perkebunan dan agroindustri sebagai pakan ternak (2008 – 2012).
e. Membangun pabrik pakan mini dengan memanfaatkan bahan baku lokal (2008 – 2012).
f. Mengembangkan obat tradisional dalam mencegah dan mengobati penyakit hewan (2008 – 2012).
g. Membangun sarana dan prasarana seperti Pusat Pelayanan Peternakan (Pusyannak), Pos Pelayanan Peternakan (Posyannak), Pasar Ternak, Laboratorium dll (2008 – 2012).

2.2. Strategi Pada Sub On Farm
a. Memberikan modal kerja kepada peternakan rakyat berupa kridit bunga rendah 6 % per tahun (2008 – 2012).
b. Mengembangkan peternakan sapi potong yang efisien yang terintegrasi dengan perkebunan rakyat, swasta berskala besar dengan memberikan kemudahan bagi investor swasta, serta melibatkan peternakan rakyat dengan pola inti – plasma (2008 – 2012).
c. Meningkatkan produktifitas ternak melalui ; (1) perbaikan manajemen, (2) menekan angka kematian, (3) meningkatkan angka kelahiran, (4) peningkatan pertambahan bobot badan dll (2008 – 2012).
d. Meningkatkan populasi betina produktif melalui pemasukan/pembelian betina produktif dari luar, memberi kemudahan bagi swasta dalam mengimpor betina produktif, pencegahan pemotongan petina produktif (2008 – 2012).
e. Menjamin penyediaan bibit (frozen semen) dan pejantan hasil seleksi inseminasi butan untuk intensifikasi kawin alam (2008 – 2012).

2.3. Strategi Pada Sub Sistem Hilir
a. Memfasilitasi penyediaan sarana dan prasarana RPH/TPH, Los Daging/Outlet Daging yang memenuhi standar kelayakan (2008 – 2010).
b. Meningkatkan efisiensi, higienisitas dan daya saing produk olahan, daging, jeroan dan kulit sesuai dengan permintaan konsumen (2008 – 2012).
c. Mengembangkan diversivikasi produk olahan oleh pihak swasta (2008 – 2012).
d. Mengembangkan industri kompos dan biogas dalam mengatasi kesulitan pupuk dan energi (2008 – 2012).



2.4. Strategi Pada Sub Sistem Perdagangan dan Pemasaran
a. Peningkatan efisiensi pemasaran ternak melalui pembangunan Pasar Ternak yang presentatif dan peningkatan profesionalitas Pasar Ternak (2008 – 2012).
b. Pengembangan pola usaha yang mendekati pasar berupa modivikasi pola inti – plasma yang lebih menguntungkan (2008 – 2012).
c. Promosi dan memposisikan produk, bahwa daging sapi adalah produk organic farming (2008 – 2012).

3. Strategi Kebijakan Teknis
a. Pengembangan agribisnis sapi potong pola integrasi pada kawasan integrasi dengan perkebunan, pertanian tanaman pangan dan holticultura (2008 – 2012).
b. Mengembangkan sapi hasil inseminasi buatan untuk memperbaiki performan dan mutu sapi lokal pada daerah intensifikasi kawin alam (2008 – 2012).
c. Meningkatkan kualitas sapi lokal melalui Inseminasi buatan dan embrio transfer (2008 – 2012).
d. Mengembangkan Balai Inseminasi Buatan Tuah Sakato sebagai pusat penyediaan bibit ternak (frozen semen) dan tempat aplikasi teknologi reproduksi di Sumatera Barat (2008 – 2010).
e. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ternak melalui pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit hewan menular (2008 – 2012).
f. Mengembangankan produksi biogas dan kompos secara masal (2008 – 2012).
g. Mengembangkan SNI untuk produk peternakan(2008 – 2012).
4. Program dan Kegiatan
Untuk mencapai tujuan dan sasaran maka perlu suatu program yang komprehensif, sinergis dan berkesinambungan. Program dan kegiatan tersebut sebagai berikut :
1. Program Pengembangan Sapi Potong
Kegiatan ;
 Peningkatan Populasi Betina Produktif Pada Kawasan Penakar Bibit (VBC)
 Peningkatan Populasi Betina Produktif Untuk Budidaya Pada Kawasan Prioritas dan Kawasan Integrasi
 Penjaringan Anak Hasil Embrio Trasfer (ET).
 Penjaringan Ternak Hasil IB.
 Pengendalian Pemotongan dan Lalulintas Ternak Betina Produktif.
 Peningkatan Angka Kelahiran Melalui Inseminasi Buatan.
 Pengawasan Mutu Semen Beku.
 Peningkatan Mutu Genetik Sapi Potong Melalui Program Embrio Trasfer.
 Intensifikasi Kawin Alam Terhadap Sapi Potong
 Meningkatkan reproduktivitas dengan mengendalikan penyakit dan gangguan reproduksi.
 Meningkatkan Produktifitas ternak melalui perbaikan kualitas pakan.
 Membangun unit pembibitan ternak sapi
 Mengembangkan teknologi budidaya ternak.
 Optimalisasi Produksi Semen Beku BIB Tuah Sakato.
 Pencegahan, Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular.
2. Program Konsolidasi Peternakan Rakyat dengan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia.
Kegiatan ;
 Pembinaan kelembagaan peternakan rakyat.
 Pelatihan tenaga penyuluh peternakan.
 Pelatihan tenaga teknis peternakan.

3. Program Pengembangan Sistem Pelayanan Terpadu Peternakan (Keswan, Kesmavet, Inseminasi Buatan dan Penyuluhan).
Kegiatan ;
 Menumbuhkembangkan Pusat Pelayanan Peternakan dan Pos Pelayanan Peternakan di setiap kawasan peternakan.
 Meningkatkan kemampuan laboratorium Keswan dan Kesmavet.
 Mengendalikan penyakit hewan menular.
 Meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan masyarakat veteriner.

4. Program Sistim Pembiayaan Yang Kondusif Untuk Sub Sektor Peternakan.
Kegiatan ;
 Menyediakan pembiayaan dengan bunga rendah mak. 6 %.
 Memfasilitasi lembaga ekonomi mikro yang berada di pedesaan dalam bentuk pengutan modal guna peningkatan skala usaha peternakan sapi potong

5. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Peternakan.
Kegiatan ;
 Pembangunan Kandang Sapi, Sistem Drainase dan Penampungan Limbah Ternak
 Pembangunan Bangngunan Pengolah limbah
 Pembangunan dan Fasilitasi Pasar ternak
 Pembangunan dan Fasilitasi RPH dan TPH
 Pembangunan Los Daging dan Outlet Daging yang Hygienis.
 Pembangunan Holding Ground
 Pembangunan Trading House
 Pembangunan Jalan Usaha Tani
 Pembangunan Jalan Produksi
 Pembangunan Irigasi Tanah Dalam
 Pembangunan Irigasi Tanah Dangkal
 Pembangunan Irigasi Permukaan
 Pembangunan Dam Parit
 Pembangunan Embung
















BAB. VI
INVESTASI


1. Investasi Pemerintah, Swasta, Masyarakat
1.1. Investasi Pemerintah
Dalam pengembangan agribisnis sapi potong terdapat 3 (tiga) pelaku utama yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Investasi pemerintah dalam agribisnis sapi potong terdapat dari beberapa aspek ; (1) bimbingan teknis (2) pelayanan kesehatan hewan, (3) penyediaan bibit unggul, (3) kegiatan penelitian, pengkajian dan pengembangan yang terkait dengan aspek pakan dan manajemen pemeliharaan, (5) pengembangan kelembagaan, percepatan arus imformasi, promosi, pemasaran, permodalan (6) Regulasi dan deregulasi dll.
Disektor hulu peran pemerintah adalah ; (1) penyediaan infrastruktur, (2) penyediaan laboratorium keswan, pakan dan reproduksi, (3) penyediaan sumber air, (4) penyiapan lahan peternakan, (5) penetapan tata ruang.
Disektor hilir peran pemerintah adalah ; (1) penyediaan infrastruktur, (2) penyediaan laboratorium Kesmavet (3) penyediaan fasilitas RPH/TPH (4) penyediaan fasilitas pasar ternak, (5) fasilitasi pemasaran.

1.2. Investasi Swasta
Investasi swasta dalam pengembangan agribisnis sapi potong terdapat dalam beberapa aspek; (1) penyediaan bibit eks impor untuk penambahan betina produktif dan pejantan unggul untuk perbaikan genetik ternak lokal, (2) pembangunan pabrik pakan ternak, (3) usaha ternak budidaya pola komersil secara kemitraan, (4) indusri pengolahan hasil ternak dll

1.3. Investasi Masyarakat
Investasi masyarakat dalam pengembangan agribisnis sapi potong terdapat dalam beberapa aspek ; (1) penyediaan lahan bagi usaha peternakan, (2) penyediaan tenaga kerja, (3) penyediaan awal modal usaha dll.


BAB. VIII
RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KOMODITI UNGGULAN SAPI POTONG


Tabel 15. Rencana Aksi Pengembangan Komoditi Unggulan Sapi Potong Di Sumatera Barat
No Sasaran Masalah Kegiatan Kebutuhan Investasi Dinas Teknis Terkait Sumber Dana
1. Daerah Sasaran Utama :
1. Kabupaten Agam,
2. Kabupaten Solok,
3. Kabupaten Solok Selatan,
4. Kabupaten Pesisir Selatan,
5. Kabupaten Sawahlunto Sijunjung,
6. Kabupaten Dharmasraya,
7. Kabupaten Padang Pariaman
8. Kota Payakumbuh.
1. Populasi betina produktif masih rendah belum mampu memacu pertumbuhan populasi,
2. Ancaman penurunan populasi ternak betina produktif akibat pemotongan dan pengeluaran ternak yang tidak terkendali
3. Penurunan performan, produksi, produktifitas dan reproduktifitas akibat mismanajemen.













































Program Pengembangan Sapi Potong
 Peningkatan Populasi Betina Produktif Pada Kawasan Penakar Bibit (VBC)
 Peningkatan Populasi Betina Produktif Untuk Budidaya Pada Kawasan Prioritas dan Kawasan Integrasi
 Penjaringan Anak Hasil Embrio Trasfer (ET).
 Penjaringan Ternak Hasil IB.
 Pengendalian Pemotongan dan Lalulintas Ternak Betina Produktif.
 Peningkatan Angka Kelahiran Melalui Inseminasi Buatan.
 Pengawasan Mutu Semen Beku.
 Peningkatan Mutu Genetik Sapi Potong Melalui Program Embrio Trasfer.
 Intensifikasi Kawin Alam Terhadap Sapi Potong
 Meningkatkan reproduktivitas dengan mengendalikan penyakit dan gangguan reproduksi.
 Meningkatkan Produktifitas ternak melalui perbaikan kualitas pakan.
 Membangun unit pembibitan ternak sapi
 Mengembangkan teknologi budidaya ternak.
 Optimalisasi Produksi Semen Beku BIB Tuah Sakato.
 Pencegahan, Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular.
1. Dinas Peternakan
2. Dinas Koperasi/UKM
3. Dinas Perkebunan
4. Dinas Tarkim
5. Dinas Sosial
2. Daerah Sasaran Pendukung :
1. Kabupaten Pasaman
2. Kabupaten Pasaman Barat
3. Kabupaten 50 Kota
4. Kabupaten T. Datar
5. Kota Bukittinggi
6. Kota P. Panjang
7. Kota Padang
8. Kota Sawahlunto
9. Kota Pariaman 1. Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia yang bergerak di bidang peternakan (peternak & petugas teknis peternakan) relatif masih rendah.








Program Konsolidasi Peternakan Rakyat dengan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia.
 Sekolah Lapangan
 Pembinaan kelembagaan peternakan rakyat.
 Pelatihan tenaga penyuluh peternakan.
 Pelatihan tenaga teknis peternakan. 1. Dinas Peternakan
2. Dinas Koperasi/UKM
3. Badan Penyuluh Pertanian
4. Badan Diklat 5. Dinas Peternakan
6. Dinas Koperasi/UKM
7. Badan Penyuluh Pertanian
8. Badan Diklat
3. Populasi ;
540.782 ekor

1. Daerah Utama
2. Daerah Pendukung 1. Masih kurangnya lembaga yang langsung berada di pusat kegiatan.
2. Operasional pelayanan peternakan di pusat kegiatan belum satu atap, akibatnya kebutuhan masyarakat bidang peternakan (bibit, pakan, kesehatan dan penyuluhan) masih terpencar dalam beberapa lembaga (IB, keswan, penyuluhan dan pembinaan).
3. Ancaman penyakit hewan strategis masih ada seperti SE, Jembrana, Anthrak.


Program Pengembangan Sistem Pelayanan Terpadu Peternakan (Keswan, Kesmavet, Inseminasi Buatan dan Penyuluhan).
 Menumbuhkembangkan Pusat Pelayanan Peternakan dan Pos Pelayanan Peternakan di setiap kawasan peternakan.
 Meningkatkan kemampuan laboratorium Keswan dan Kesmavet.
 Mengendalikan penyakit hewan menular.
 Meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan masyarakat veteriner.
1. Dinas Peternakan
2. Dinas Peternakan

4. Produksi ;
19.169 ton

1. Daerah Utama
2. Daerah Pendukung 1. Kurangnya modal untuk usaha dan pengembangan usaha peternakan Program Sistim Pembiayaan Yang Kondusif Untuk Sub Sektor Peternakan.
 Menyediakan pembiayaan dengan bunga rendah mak. 6 %.

 Memfasilitasi lembaga ekonomi mikro yang berada di pedesaan dalam bentuk pengutan modal guna peningkatan skala usaha peternakan sapi potong

1. Dinas Peternakan
2. Dinas Koperasi/UKM
3. Dinas Peternakan
4. Dinas Koperasi/UKM

5.




Rumah Tangga (kk) ;
1. Daerah Utama
2. Daerah Pendukung


1. Sarana dan prasarana peternakan masih kurang.




Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Peternakan.
 Pembangunan Kandang Sapi, Sistem Drainase dan Penampungan Limbah Ternak
 Pembangunan Bangngunan Pengolah limbah
 Pembangunan dan Fasilitasi Pasar ternak
 Pembangunan dan Fasilitasi RPH dan TPH
 Pembangunan Los Daging dan Outlet Daging yang Hygienis.
 Pembangunan Holding Ground
 Pembangunan Trading House
 Pembangunan Jalan Usaha Tani
 Pembangunan Jalan Produksi
 Pembangunan Irigasi Tanah Dalam
 Pembangunan Irigasi Tanah Dangkal
 Pembangunan Irigasi Permukaan
 Pembangunan Dam Parit
 Pembangunan Embung
1. Dinas Peternakan
2. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura
3. Dinas Tarkim
4. Dinas Sarana dan Prasarana Jalan
5. Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air
6. Dinas Peternakan
7. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura
8. Dinas Tarkim
9. Dinas Sarana dan Prasarana Jalan
10. Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air

























Program Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian
 Promosi dan Perluasan Pasar Produk Peternakan
1. Dinas Perdagangan
2. Dinas Peternakan
3. BKPMD Dinas Perdagangan
Dinas Peternakan
BKPMD
Program Pengembangan Produk Pertanian
 Peningkatan Produksi Hasil Pertanian
1. Dinas Pertanian 2. Dinas Pertanian
Program Pengembangan Produk Perkebunan
 Peningkatan Produksi Hasil Perkebunan
1. Dinas Perkebunan
2. Dinas Perkebunan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar