
Pendahuluan
Ternak umumnya kita kenal merupakan penghasil bahan pangan asal hewan berupa daging, telur dan susu yang merupakan sumber protein hewani. Protein hewani tersebut sangat dibutuhkan untuk kelanjutan kehidupan manusia, peran protein hewani disamping sebagai faktor pertumbuhan juga menjaga tingkat kesehatan serta memacu pertumbuhan otak sehingga tingkat kecerdasan dan produktifitas sangat terkait sekali dengan kecukupan protein yang dikonsumsi oleh manusia.
Disamping pemanfaatan ternak sebagai sumber protein, khususnya ternak besar bermanfaat juga untuk sebagai sumber tenaga kerja, seperti untuk membajak sawah, menggiling tebu dan sebagai alat transportasi pertanian di daerah sentra pertanian. Selain itu hasil sampingan ternak dalam bentuk kotorannya baik dari ternak besar, ternak kecil dan unggas bila dikumpulkan dan di proses dengan baik dapat menjadi produk – produk yang bermanfaat seperti sebagai pupuk organik dan energi arternatif.
Peran ternak dimasyarakat pedesaan terdiri dari beberapa hal yaitu dari aspek ekonomi maka ternak akan berfungsi sebagai penghasil uang tunai, penambah modal dan sebagai simpanan. Dari aspek sosial budaya maka ternak dijadikan sebagai simbul-simbul dalam acara budaya dan keagamaan seperti budaya turun mandi maka bako di Minang Kabau akan membawakan ayam betina, Tagak penghulu maka ternak kerbau atau sapi menjadi perlambang yang harus disediakan saat upacara tersebut dan lain sebagainya.
Peran Ternak Dalam Peningkatan Pendapatan dan Kesejahteraan
Sebahagian besar usaha peternakan di Sumatera Barat masih merupakan usaha peternakan rakyat dimana skala usaha masih sekitar 2 s/3 Satuan ternak, atau kalau kita konversikan untuk ternak besar sekitar 2 s/d 3 ekor/kk, untuk ternak kecil (kambing dan domba) sekitar 5 ekor dan untuk ternak unggas kurang dari 100 ekor. Usaha peternakan juga masih menjadi cabang usaha dalam keluarga disamping usaha – usaha sektor pertanian lain seperti bersawah, berladang dan berkebun serta usaha perdagangan skala rumah tangga, kecil dan menengah.
Namun meskipun merupakan cabang usaha, mampu memberikan konstribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Dari ternak unggas misalnya dia mampu menjadi penghasil uang tunai harian dalam keluarga dari produk yang dihasilkan yaitu telur. Dengan skala usaha 25 ekor saja baik ternak itik maupun ayam buras, mampu mengahasilkan produksi telur 15 s/d 19 butir per hari, bila di asumsikan harga satu butir telur Rp 1.000,- maka sudah bisa menghasilkan uang tunai sekitar Rp. 15.000,- s/d Rp. 19.000,-/hari. Bila ini ditangani dengan pengelolaan yang baik dan dengan skala yang lebih besar, akan mampu menjadi tumpuan penghasilan utama rumah tangga.
Dari ternak kecil seperti kambing dan domba mampu menjadi penopang penghasilan keluarga dalam waktu yang singkat. Ternak kambing dalam waktu 2 (dua) tahun mampu melahirkan 3 (tiga) kali dengan jumlah anak bisa mencapai 2 s/d 5 ekor, artinya dalam 2 tahun bisa mengahasilkan anak 10 s/d 25 ekor dan kalau harga jual ternak muda sekitar Rp. 400.000,- maka penghasilan dalam 2 tahun bisa mencapai Rp. 4.000.000,- s/d 20.000.000,-. Sementara pemeliharaan tidak begitu rumit dan membutuhkan lahan yang tidalk luas. Bila diberikan sentuhan agribisnis dengan pengelolaan yang baik niscaya hasil akan lebih besar dan mampu menjadi penopang utama dari pendapatan keluarga.
Ternak besar seperti sapi dan kerbau saat ini sangat banyak diusahakan oleh petani di pedesaan di Sumatera Barat. Disamping sebagai sumber tenaga kerja untuk membajak sawah dan ladang juga berfungsi sebagai tabungan. Setiap akan mengadakan perhelatan seperti pernikahan, tagak penghulu dll maka ternak sapi atau kerbau menjadi tumpuan modal untuk kegiatan – kegiatan tersebut. Untuk pergi haji dan pembiayaan anak sekolah maka ternak sapi atau kerbau menjadi tempat tabungan mereka. Karena perannya yang multifungsi dan kemampuannya memberi nilai tambah lebih.
Usaha Peternakan Dalam rangka Mengentas Kemiskinan dan Pengangguran.
Kemiskinan saat ini di era krisis global terutama krisis ekonomi dan krisis finansial, maka ternak menjadi salah satu alternatif jawaban yang cepat dan tepat untuk menjadi solusi pemecahannya. Ternak ayam buras, itik, puyuh dan lainnya, merupakan komoditi yang mampu mendatangkan uang tunai dari hasil telur. Persoalan kemiskinan tidak lepas dari persoalan bagaimana keluarga manpu menyediakan kebutuhan pokoknya, dan semuanya bermuara bagaimana keluarga mampu menyediakan uang tunai untuk membeli kebutuhan pokok tersebut.
Pengangguran juga menjadi persoalan di Sumatera Barat, lebih dari 6.000 tenaga kerja terdidik dihasilkan setiap tahun melalui perguruan tinggi yang ada di Sumatera Barat. Ini menjadi masalah utama yang nanti akan beresiko menambah angka kemiskinan dan keamanan masyarakat. Usaha peternakan merupakan salah satu solusi untuk mengatasinya. Persoalan utama bagi tenaga kerja terdidik ini adalah masalah permodalan, masalah lahan dan masalah penggalian jiwa kewirausahaan (enterpreneurship). Maka persoalan ini harus diatassi secara sistematik dan berkelanjutan.
Melalui usaha – usaha peternakan yang memiliki modal kecil, diharapkan para tenaga kerja terdidik sudah dapat memulai usahanya misal usaha peternakan unggas skala kecil (ayam buras, itik, ayam ras pedaging) dan usaha peternakan kambing dan domba. Dengan modal Rp. 15 juta s/d Rp. 20 juta maka usaha ini sudah bisa berjalan. Dengan modal dasar ini bila di manaj dengan baik akan mampu memberikan penghasilan yang cukup. Penguatan modal yang biasanya diharapkan dari lembaga keuangan dapat kita akses, karena persaratan modal awal dan angunan sudah bisa disediakan dari usaha awal.
Bila sekiranya subsidi pupuk dapat di substitusikan dengan ternak, maka banyak lapangan usaha yang bisa di buat dari subsidi pupuk tersebut dan ini memberikan dampak berganda yang sangat tinggi terhadap pengurangan angka kemiskinan, angka pengangguran, hasil – hasil pertanian organik, serta swasembada pangan asal ternak.
Agribisnis Peternakan Sebagai Harapan Masa Depan
Potensi agribisnis peternakan di Sumatera Barat harusnya menjadi modal yang kuat di masa depan. Potensi agribisnis ini bisa menjadi lokomotif atau sokoguru pertumbuhan ekonomi. Namun faktanya kita belum mampu untuk mewujudkanya. Agribisnis peternakan belum mampu tumbuh secara optimal dimasyarakat. Indonesia masih mengimpor pangan hewani. Masyarakat kita masih mengusahakan usaha peternakan sebagai usaha rutinitas dengan pola tradisional yang turun temurun di wariskan.
Dalam perspektif umum agribisnis peternakan hanyalah bagaimana membudidayakan ternak padahal dalam perspektif yang lebih luas agribisnis peternakan adalah bagai mana meningkatkan nilai tambah dari usaha – usaha peternakan mulai dari perbibitan, on farm, Off farm dan agrotaourism. Bagaimana kita melekatkan agribisnis peternakan melalui pengelolaan manajemen yang baik, mulai dari pembibitan, pembudidayaan, pemasaran, pasca panen dan mengemas agrowisata peternakan.
Bila agribisnis peternakan bisa terwujud maka peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat mampu kita wujudkan. Untuk itu darimana kita harus memulainya, ada beberapa hal yang harus kita benahi yaitu ;
1. Ketersediaan bibit bermutu dan berkualitas
2. Ketersediaan pakan yang cukup dan bergizi,
3. Kemanan ternak dari penyakit,
4. Pengelolaan usaha dan Manajemen ,
5. Pemasaran dan penangannan pasca panen
6. Pengembangan ke arah Agrotourism
Ketersediaan bibit bermutu dan berkualitas mutlak harus ada, untuk itu bagaimana dalam usaha peternakan harus memikirkan dari mana sumber bibit. Sumberbibit dapat berasal dari luar lingkungan dan dapat berasal dari dalam sendiri. Dari luar (peternak lain) baik dari daerah sendiri maupun dari luar daerah harus meperhatikan nilai efektifitas, efisiensi dan ekonomis. Yang lebih utama memperhatikan kualitas dari ternak bibit itu sendiri. Sumber bibit dari dalam artinya kita sendiri yang mempersiapkan bibit sehingga kita harus mampu mengatur struktur ternak, apakah itu ternak untuk kita jadikan bakalan memproduksi bibit, ataukan bakalan untuk usaha budidaya. Dengan memperhatikan ini maka nilai tambah dari usaha peternakan bisa kita tingkatkan.
Ketersediaan pakan menjadi hal yang mutlak karena 70% dari biaya produksi berasal dari pakan untuk itu kita harus memikirkan dari mana sumber pakan ternak untuk usaha peternakan. Apakah kita akan memproduksi sendiri, ataukah kita akn membelinya dari luar. Kita juga harus memperhatikan sumber –sumber pakan lokal. Karena pakan lokal nilai costnya lebih rendah sehingga keuntungan yang diperoleh lebih tinggi. Pakan – pakan lokal sebenarnya mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi bila kita mengelolanya dengan baik.
Keamanan ternak dari penyakit terutama penyakit hewan menular strategis punya arti penting dalam usaha agribisnis, 10% dari biaya produksi di usaha peternakan adalah penanganan penyakit ternak. Bila ini tidak tertangani dengan baik maka akan berdampak ekonomi yang sangat tinggi. Misal kasus flu burung, bila wabah ini terjangkit maka dampak ekonominya sangat besar sekali, daya beli terhadap komoditi unggas akan turun sehingga peternakan akan mengalami kerugian yang sangat besar, begitu juga dengan penyakit – penyakit ternak lainnya.
Dalam agribisnis peternakan pengelolaan/manajemen/pengaturan tatalaksana usaha peternakan merupakan unsur yang sangat penting, bagaimana disain usaha peternakan, kapan penyediaan bakalan, bagaimana pengelolaan kandang dan pakan serta bagaimana penanganan kesehatan hewan dan reproduksi ternak haruslah diataur melalui suatu disain tatalaksana usaha peternakan yang benar.
Pemasaran dan penanganan pasaca panen juga menjadi faktor kunci. Dalam agribisnis peternakan dan budaya masyarakat Minang Kabau yang tertuang dalam filosofinya “tajua mako di bali...” mempunyai makna bahwa setiap usaha haruslah memperhatikan unsur pemasaran. Dalam agribisnis pasar merupakan faktor utama, ketika pasar telah ada maka faktor – faktor produksi akan bergerak dengan sendirinya dengan ditopang oleh faktor finansial dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam. Dalam era masayarakat yang memahami kebutuhan pangan yang amam dan bergizi maka peran penanganan pasca panen juga menjadi unsur penting. Contoh dalam masyarakat kapan ternak ayam ras pedaging masuk ke pasar dengan batasan residu dari antibiotik dan zat aditif lain yang diberikan pada ayam saat produksi sudah berada pada ambang batas yang diizinkan. Pemotongan unggas yang seharusnya dilakukan pada tempat pemotongan unggas yang representatif yang memenuhi kaidah – kaidah sanitasi dan ke higienitas seperti pada RPU/RPU-SK.
Agrotourism, ini masih belum membudaya di masyarakat kita. Padahal kalau ini bisa kita garap maka peningkatan pendapatan kesejahteraan petani akan meningkat, disamping itu akan memberikan dampak berganda yang cukup tinggi. Daerah usaha peternakan dan usaha pertanian lainnya bila kita padukan mampu untuk dijual sebagai daerah tujuan wisata (agrowisata). Masyarakat perkotaan dan manca negara sangat butuh dengan suasana pertanian yang alami, karena umumnya mereka berada pada rutinitas perkotaan. Kejenuhan – kejenuhan perkotaan harus mampu kita manfaatkan sebagai peluang dalam meningkatan perekonomian petani peternak. Kita kemas paket – paket agrowisata seperti melibatkan turis untuk langsung terlibat dalam suasana pengelolaan ternak, pengelolaan pertanian tanaman pangan dan holtikultura dan mereka tinggal dalam suasana pedesaan.
Peran Usaha Peternakan Dalam Mendukung Pertanian Organik
Saat ini pertanian organik menjadi tren ditingkat nasional dan global, ini terlihat dengan tumbuhnya outlet – outlet yang menjual tanaman organik untuk konsumsi pangan. Dengan bergemanya jargon kembali kealam (back to basic) maka ternak menjadi primadona yang ikut mensuport berkembangnya pertanian organink, karena sebagian besar pertanian organik kebutuhan pupuk organik berasal dari kotoran ternak apakah itu feces ataupun dari uring/kencing ternak.
Selama ini petani cendrung bergantung pada pupuk anorganik atau pupuk kimia untuk mendukung usaha tani mereka. Hal ini disebabkan karakteristik dari pupuk an organik ini memiliki kandungan unsur hara yang tinggi dan respon tanaman yang sangat cepat dengan kata lain cepat kelihatan hasilnya. Namun pemakaian pupuk organik yang terus menerus akan mampu merusak struktur dan tektur tanah, akan mampu menguras unsur hara tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Ketergantungan akan pupuk organik yang tinggi akan berdampak terhadap harga dan ketersediaan dari pupuk organik itu sendiri. Akibat mahalnya pupuk anorganik, pemerintah terpaksa menyediakan subsidi pupuk yang sangat besar sekitar Rp. 17 Triliun. Kalaulah anggaran yang Rp 17 triliun ini dijadikan ternak maka dampak bergandanya akan tinggi. Ternak mampu mengatasi kelangkaan pupuk, mampu mengatasi pengangguran, mampu mengatasi kemiskinan dan mampu mengatisi impor daging dari luar negeri.
Dengan program pemerintah Propinsi Sumatera Barat melalui Padi Tanam Sabatang, maka peran ternak disini semangkin nyata, karena untuk padi tanam sabatang membutuhkan pupuk organik yang melibatkan kotoran ternak dan jerami sebagai unsur utamanya. Begitu juga dengan program Kakao, sawit dan lain – lain maka kotoran ternak merupakan alternanif jawaban untuk mengatasi persoalan pupuk.
Kotoran ternak juga dapat dijadikan sebagai energi alternatif, sehingga kebutuhan masyarakat akan bahan bakar minyak (BBM) atau bahan bakar gas (BBG), batu bara dan kayu bakar sebagian besar sudah dapat digantikan oleh biogas yang bahan dasar adalah kotoran ternak. Pada prinsipnya semua kotoran ternak dapat dijadikan biogas. Biogas yang dihasilkan dari proses biodigester mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, karena dapat digunakan sebagai bahan bakar dan energi listrik untuk penerangan.
Menyikapi hal tersebut diatas maka dalam usaha pertanian dan perkebunan haruslah bersinergi, berintekgrasi dan terpadu antara ternak dengan pertanian tanaman pangan, tanaman holtikultura dan perkebunan. Pertanian terpadu merupakan jawaban yang bijak untuk mengatasi kompleksitas masalah (pupuk, tanaman organik, kemiskinan dan pengangguran).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar